Berdayakan Masyarakat Desa Penyangga Meru Betiri: Hutan Lestari, Ekonomi Mandiri
- 29 Sep 2026 16:38 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Sinergi antara kelestarian alam dan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan menjadi topik utama dalam siaran langsung program Jaga Malam di kanal YouTube RRI JEMBER (Pro 2 RRI Jember – 89,5 FM). Dipandu oleh Vita Karina sebagai host, diskusi bertajuk "Hutan Lestari, Ekonomi Mandiri: Saatnya Masyarakat Jadi Sobat Hutan" ini menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu Alifa Rahma Fitrian dan Silvi Igatari selaku Penyuluh Kehutanan Terampil Balai Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), serta Bram sebagai perwakilan Kelompok Pemuda Mandiri Desa Curah Nongko, Senin 28 September 2026. Diskusi interaktif ini mengupas tuntas bagaimana pengelolaan kawasan konservasi TNMB diselaraskan dengan pemberdayaan desa penyangga guna mendorong kemandirian warga tanpa merusak ekosistem.
Penyuluhan kehutanan menjadi pilar penting dalam mengawal interaksi warga dengan kawasan konservasi agar tetap berada pada koridor hukum dan fungsi lingkungan. Alifa Rahma Fitrian menjelaskan bahwa pemanfaatan kawasan hutan dilakukan secara terukur melalui penetapan sistem zonasi.
"Taman Nasional ini kan dasarnya konservasi di mana kita menggunakan sistem zonasi. Ada zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, dan zona rehabilitasi. Aktivitas masyarakat dan kelompok binaan ini dibatasi hanya pada zona pemanfaatan dan zona rehabilitasi," ungkap Alifa.
Guna mendukung keberlanjutan ekonomi warga di zona yang diperbolehkan, pihak taman nasional menyalurkan bantuan ekonomi produktif secara berkala bagi kelompok masyarakat yang memenuhi kriteria. Penyuluh Kehutanan Terampil Resort Bendealit, Silvi Igatari, menegaskan pentingnya evaluasi berkelanjutan agar bantuan yang disalurkan benar-benar efektif.
"Setiap tahun kita lakukan evaluasi dan monitoring untuk melihat apakah kelompok membutuhkan bantuan untuk meningkatkan produktivitasnya. Kita tinjau apakah ada kendala modal atau inovasi sehingga bantuan yang diberikan tepat sasaran," tutur Silvi.
Dampak positif dari program pemberdayaan ini dirasakan langsung oleh Kelompok Pemuda Mandiri dari Desa Curah Nongko yang berhasil mengembangkan berbagai potensi lokal dan ekonomi kreatif. Bram memaparkan bahwa kelompoknya berfokus pada inovasi produk serta pengembangan potensi wisata desa.
"Kami membangun Rumah Karya untuk menampung olahan kreatif warga, seperti lukisan dari limbah ranting dan kulit kayu, hingga olahan kuliner lokal. Kami juga merancang pengembangan destinasi wisata seperti Kampung Alpukat, konsep wisata alam, hingga jalur kegiatan rekreasi," jelas Bram.
Dukungan dana serta fasilitas dari Balai TNMB menjadi pendorong utama percepatan program kerja pemuda di desa penyangga tersebut. Bantuan anggaran yang diterima memberikan kepastian modal untuk merealisasikan rencana usaha warga secara lebih fleksibel. Bram mengungkapkan apresiasinya atas kemitraan ini,
"Setelah menerima bantuan anggaran dari Taman Nasional, kami seperti mendapat angin segar. Program-program yang direncanakan bisa dieksekusi lebih cepat, seperti jalan pintas untuk melompat lebih maju dari yang sebelumnya merambat perlahan."
Harmoni antara perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan kini menjadi komitmen bersama antara pengelola taman nasional dan masyarakat sekitar. Melalui komunikasi yang terbuka serta edukasi yang berkelanjutan, warga desa penyangga tidak lagi memandang hutan sebagai area yang terisolasi, melainkan ruang hidup yang wajib dijaga bersama. Alifa Rahma Fitrian menutup pesan edukatifnya dengan mengajak masyarakat luas untuk peduli terhadap lingkungan,
"Di era sekarang ini, jadikanlah hutan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita."
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....