Islam dan Pesan Menjaga Alam dari Ancaman Kerusakan

  • 21 Sep 2026 11:30 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Bencana merupakan peristiwa yang dapat menimbulkan dampak besar bagi kehidupan manusia, baik berupa kerusakan lingkungan, kerugian material maupun terganggunya aktivitas masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, bencana kerap dipahami sebagai fenomena alam, seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, atau kekeringan. Namun, dalam perspektif Islam, bencana juga dapat dikaji dari sisi perilaku manusia, hubungan dengan lingkungan, serta nilai-nilai spiritual.

Perspektif tersebut melihat persoalan bencana tidak hanya dari sisi penanganan setelah peristiwa terjadi, tetapi juga dari upaya memahami penyebab dan mencegah kerusakan sejak awal. Manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan kehidupan dan tidak melakukan tindakan yang dapat menimbulkan kerusakan di bumi.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Jember bersama Ustaz Ahmad Rahmatullah, M.Ag., Penyuluh Agama Islam KUA Pakusari, Minggu (21/9/2026). Dalam pembahasannya, Ustaz Ahmad menjelaskan perbedaan cara pandang antara hukum formal di Indonesia dan ajaran Islam dalam melihat persoalan bencana.

Menurutnya, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana lebih menekankan pada pengelompokan bencana, yaitu bencana alam, nonalam, dan sosial, sekaligus menjadi dasar dalam penanganan dampak bencana. Sementara itu, Islam membahas persoalan bencana secara lebih luas, mulai dari penyebab, tujuan terjadinya suatu musibah, hingga upaya pencegahannya.

Ustaz Ahmad menjelaskan, dalam perspektif Islam terdapat beberapa hal yang dapat menjadi penyebab terjadinya bencana. Salah satunya adalah perbuatan manusia yang menyebabkan kerusakan terhadap lingkungan. Ia mengaitkan hal tersebut dengan QS. Asy-Syura ayat 30 dan QS. Ar-Rum ayat 41 yang menjelaskan mengenai kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan manusia.

Kerusakan tersebut dapat terjadi melalui berbagai tindakan, seperti penebangan hutan secara berlebihan, membuang sampah sembarangan, hingga mengeksploitasi sumber daya alam tanpa mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan. Karena itu, manusia dituntut memiliki kesadaran untuk menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab kehidupan.

Selain kerusakan lingkungan, Ustaz Ahmad menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam bencana juga dapat dikaitkan dengan dosa, kemaksiatan yang dilakukan secara terang-terangan, serta kezaliman. Dalam kondisi tertentu, dampak suatu musibah dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas, termasuk mereka yang tidak melakukan perbuatan tersebut.

Namun, bencana tidak selalu dimaknai sebagai akibat dari kesalahan atau dosa seseorang. Bagi orang beriman, musibah juga dapat menjadi ujian dan cobaan. Ustaz Ahmad mengaitkannya dengan QS. Al-Baqarah ayat 155-156 yang menjelaskan tentang ujian berupa rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan hasil tanaman, serta pentingnya kesabaran dalam menghadapinya.

Menurutnya, ujian dapat menjadi sarana untuk menguji kesabaran, menghapus dosa-dosa terdahulu, sekaligus meningkatkan derajat seseorang di sisi Allah SWT. Karena itu, seseorang perlu menyikapi musibah dengan kesabaran sekaligus melakukan evaluasi terhadap kehidupan dan lingkungan di sekitarnya.

Ustaz Ahmad juga menekankan pentingnya membangun tiga hubungan yang harmonis dalam kehidupan, yakni hablum minallah atau hubungan manusia dengan Allah, hablum minannas atau hubungan dengan sesama manusia, serta hablum minal alam atau hubungan manusia dengan alam.

Hubungan dengan alam tersebut perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Masyarakat dapat berkontribusi dengan menjaga kebersihan lingkungan, memilah sampah, mengembangkan bank sampah, serta memanfaatkan teknologi untuk mengolah limbah. Di sisi lain, kebijakan dan regulasi juga diperlukan agar pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Melalui pembahasan Mutiara Pagi, Ustaz Ahmad mengingatkan bahwa manusia memiliki amanah sebagai khalifah di bumi. Merujuk QS. Al-Baqarah ayat 30, manusia diberikan tanggung jawab untuk mengelola bumi, bukan justru membuat kerusakan di dalamnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa memahami bencana tidak cukup hanya dengan melihat dampaknya. Manusia juga perlu melihat hubungan antara perilaku, lingkungan, dan kehidupan spiritual. Menjaga alam, menghindari kerusakan, serta membangun hubungan yang baik dengan Allah dan sesama menjadi bagian dari upaya menjalankan amanah sebagai manusia di bumi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....