RSUD Besuki Dekatkan Pasien dengan Layanan Hemodialisa
- 16 Sep 2026 20:50 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Situbondo - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, resmi meluncurkan Layanan Cuci Darah atau Hemodialisa, Rabu, 16 September 2026.
Direktur RSUD Besuki, dr. Imam Hariyono mengaku, setelah melalui tahapan-tahapan agar bisa memberikan layanan cuci darah, RSUD Besuki akhirnya resmi membuka layanan bagi pasien hemodialisa.
"Alhamdulillah, kita sudah memenuhi persyaratan mendirikan Layanan Hemodialisa atau Cuci Darah. Mulai dari syarat dokumentasi, administrasi, uji fungsi dan lainnya," ujar dr. Imam Hariyono saat peresmian Layanan Hemodialisa.
Layanan cuci darah hadir untuk mendekatkan pelayanan bagi pasien cuci darah yang tinggal di wilayah barat Situbondo. Selama ini, pasien cuci darah mendapatkan layanan melalui RSUD dr. Abdoer Rahem dan Rumah Sakit Rizani, Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.
"Dengan mendekatkan layanan ini akan mempermudah atau memangkas biaya karena jarak tempuh semakin dekat sehingga kesehatan mereka terus stabil," imbuh dr. Imam Hariyono.
Katanya, penyakit ginjal kronis terus bertambah, sehingga kebutuhan layanan Hemodialiasa menjadi utama. Dengan hadirnya layanan ini, dr. Imam berharap kesehatan dan kualitas hidup pasien hemodialisa terus meningkat dan membaik.
"Penyakit ginjal kronis itu bisa disebabkan karena pola makan tidak sehat, bisa juga karena kencing manis atau diabetes yang mengakibatkan kerusakan pada ginjal," bebernya.
Salah seorang pasien cuci darah, Dafir Musthofa (30) warga Dusun Banteng Mati, Desa Sumberanyar, Kecamatan Jatibanteng, mengaku sangat terbantu dengan hadirnya layanan cuci darah di RSUD Besuki.
"Sebelumnya saya harus ke RSUD dr. Abdoer Rahem untuk cuci darah. Butuh waktu sekitar 3 jam perjalanan karena rumah saya di pegunungan. Kalau ke Rumah Sakit Besuki hanya butuh waktu sekitar 30 menit," bebernya.
Dafir mengaku sudah tiga tahun ia menjalani cuci darah setiap dua minggu sekali. Ia mengaku tidak terkover sebagai penerima BPJS Kesehatan gratis, sehingga ia harus membayar iuran BPJS Kesehatan secara mandiri.
"Setiap bulan saya bayar Rp37.500 karena saya tidak terdaftar sebagai BPJS Kesehatan penerima bantuan iuran atau PBI. Mau mengakses Program Berantas juga ditolak," ungkapnya.
Ia berharap, RSUD Besuki bisa membantunya untuk mengurus kepesertaan BPJS Kesehatan gratis, karena Dafir berasal dari keluarga miskin dan berhak mendapatkan layanan kesehatan gratis.
"Mau mengakses Program Brantas atau Berobat Tanpa Batas Pemkab Situbondo, tapi ditolak. Semoga saja pihak RSUD Besuki bisa menjembatani saya mendapatkan layanan kesehatan gratis," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....