Surut Ekstrem Ganggu Sandar Kapal di Lintasan Ketapang-Gilimanuk
- 15 Sep 2026 15:57 WIB
- Jember
RRI.CO.ID Banyuwangi – Fenomena surut ekstrem di Selat Bali mengganggu proses sandar kapal penyeberangan di dermaga Landing Craft Machine (LCM) Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk. Akibatnya, kapal jenis Landing Craft Tank (LCT) membutuhkan waktu lebih lama untuk bersandar sehingga berdampak pada antrean penyeberangan.
Prakirawan BMKG Pelabuhan Ketapang, Dudi Nugraha, mengatakan perubahan tinggi muka air laut dipicu fase bulan baru yang terjadi pada 11 September 2026. Peningkatan pasang dan surut mulai terasa sejak tiga hari sebelum fase tersebut.
“Di tanggal 11 September ini kan ada bulan baru. Dan itu juga bisa meningkatkan untuk top pasangnya dan top surutnya,” kata Dudi, Selasa, 15 September 2026.
Menurut Dudi, pada kondisi normal tinggi muka air laut saat pasang mencapai sekitar 0,9 meter, sedangkan saat surut turun hingga minus 0,9 meter. Namun berdasarkan analisis BMKG, beberapa hari terakhir pasang mencapai 1,3 meter dan surut menyentuh minus 1,2 meter.
Ia menjelaskan kondisi surut ekstrem umumnya berlangsung selama satu hingga dua jam sebelum kembali normal. Waktu terjadinya berbeda setiap hari, tetapi kerap muncul pada pagi sekitar pukul 06.00–07.00 WIB dan sore hari antara pukul 17.00–19.00 WIB.
BMKG memperkirakan intensitas surut ekstrem mulai berangsur menurun pada Selasa, 15 September 2026. Meski demikian, masyarakat dan operator pelayaran tetap diminta mewaspadai perubahan tinggi muka air laut yang masih berpotensi terjadi.
Sementara itu, Koordinator Satuan Pelabuhan (Korsatpel) BPTD Ketapang, Tarto Saefullah, mengatakan surut ekstrem berpengaruh langsung terhadap kelancaran operasional kapal di dermaga LCM. Saat air laut surut, arus menjadi lebih kuat sehingga meningkatkan risiko kapal kandas ketika hendak bersandar.
“Kapal akhirnya tidak bisa optimal, akan berdampak pada antrean,” ujar Tarto.
Tarto menambahkan gangguan tersebut juga mengurangi jumlah trip penyeberangan karena kapal harus menunggu kondisi air kembali normal. Fenomena ini terjadi di kedua sisi pelabuhan, baik Ketapang maupun Gilimanuk, dengan waktu yang tidak menentu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....