Stres dan Beban Kerja Menumpuk? Imbangi dengan Olahraga ala Dosen Keperawatan UNEJ

  • 15 Sep 2026 10:48 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Menjaga kesehatan fisik dan mental kini menjadi perhatian penting di tengah tingginya dinamika kehidupan masyarakat modern. Peran strategis aktivitas fisik terhadap kestabilan emosi dan kesehatan jiwa ini dibahas dalam siaran OBRAS (Ngobrol Bareng Komunitas) di Pro 1 RRI Jember pada Senin, 14 September 2026 pukul 20.10 WIB yang dipandu oleh host Haryo Kukuh, dengan mengusung topik "Keringat Sehat, Jiwa Kuat: Rahasia Olahraga untuk Mental Prima".

Diskusi tersebut menghadirkan dua akademisi sekaligus praktisi keperawatan dari Fakultas Keperawatan Universitas Jember (UNEJ) sebagai narasumber. Mereka adalah Ns. Wahyu Dini Candra Susila, M.Kep., Sp.Kep.J. dan Yopi Darmawan, S.Kep., Ns., M.N.Sc.

Aktivitas tubuh yang bergerak secara aktif tidak hanya berfungsi menjaga kebugaran raga, tetapi juga berdampak langsung pada regulasi saraf otak. Bergerak secara teratur dapat meningkatkan fleksibilitas neuron serta meminimalisir respons stres, sehingga kesehatan mental tetap terjaga dengan baik.

"Secara biologis tubuh manusia memang dirancang untuk bergerak guna melatih fleksibilitas neuron otak. Selain itu, olahraga juga menjadi sumber kesejahteraan psikologis karena membangun interaksi sosial dan rasa terhubung dengan orang lain," kata Dosen Keperawatan Jiwa UNEJ, Ns. Wahyu Dini Candra Susila, M.Kep., Sp.Kep.J.

Dalam kesempatan tersebut, para narasumber juga meluruskan persepsi masyarakat terkait mitos berolahraga. Banyak orang menganggap olahraga baru efektif jika menghasilkan keringat deras. Padahal, keluarnya keringat belum tentu mengindikasikan pembakaran lemak, melainkan bisa jadi hanya pengurangan cairan tubuh.

"Efektivitas olahraga tidak diukur dari seberapa basah pakaian oleh keringat atau rasa pegal pada tubuh, melainkan pada form atau teknik gerakan yang benar untuk mencegah cedera. Selain itu, jenis olahraga juga harus disesuaikan dengan kondisi tubuh, contohnya penderita obesitas lebih disarankan berenang agar tidak membebani sendi lutut," ujar Dosen Keperawatan UNEJ, Yopi Darmawan, S.Kep., Ns., M.N.Sc.

Mengenai kendala malas berolahraga, masyarakat diimbau untuk mengubah pola pikir dari "menunggu waktu luang" menjadi "meluangkan waktu". Kebutuhan gerak tubuh minimal dapat dipenuhi dalam durasi 30 hingga 60 menit per minggu melalui gerakan sederhana, termasuk peregangan (stretching) di sela-sela jam kerja atau kuliah.

Momentum ini sekaligus memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang jatuh setiap tanggal 10 September. Fenomena peningkatan kasus gangguan mental di kalangan muda menjadi perhatian serius, sehingga kesadaran untuk mencari bantuan profesional sangat diperlukan.

Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan self-diagnose atau mendiagnosis gangguan kecemasan secara mandiri hanya melalui mesin pencari di internet. Jika mengalami kendala tidur persisten atau penurunan kualitas hidup akibat stres, masyarakat diminta berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat atau pusat layanan konseling tepercaya.

Melalui konsistensi meluangkan waktu untuk beraktivitas fisik dan menjaga kebiasaan hidup sehat, masyarakat diharapkan mampu membangun kestabilan jiwa dan raga secara seimbang menuju kualitas hidup yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....