Ratusan Warga Puger Jember Ikuti Simulasi Tsunami

  • 14 Sep 2026 11:57 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Suasana di kawasan pesisir Puger, Jember, mendadak berubah ketika skenario gempa bumi yang berpotensi memicu tsunami disimulasikan, Minggu (13/9/2026).

Warga yang sebelumnya beraktivitas seperti biasa diminta merespons situasi tersebut dengan melakukan evakuasi menuju titik kumpul.

Simulasi ini menjadi bagian dari latihan untuk mengukur kesiapan masyarakat menghadapi potensi tsunami di pesisir selatan Jawa.

Sekitar 500 warga Desa Puger Kulon dan Puger Wetan, Kecamatan Puger, terlibat dalam latihan evakuasi yang digelar Palang Merah Indonesia (PMI) Jember bersama Palang Merah Jepang.

Dua desa tersebut telah mendapatkan pendampingan terkait pengurangan risiko bencana selama sekitar 1,5 tahun. Dalam simulasi, warga diuji sejak menerima informasi mengenai potensi tsunami hingga mencapai titik kumpul.

Respons masyarakat menjadi salah satu hal yang diamati, termasuk ketenangan, perlindungan diri, kepatuhan terhadap jalur evakuasi, hingga kepedulian terhadap kelompok yang membutuhkan bantuan.

Di Dusun Mandaran II, Desa Puger Kulon, misalnya, warga merespons kabar tsunami dengan membunyikan tanda bahaya menggunakan kentongan bambu dan peralatan dapur.

Suara tersebut digunakan untuk memperingatkan warga lain agar segera meninggalkan kawasan menuju titik kumpul.

Sebagian warga berjalan kaki, sementara lainnya menggunakan sepeda motor. Dalam proses evakuasi, terdapat warga yang membawa serta anak-anak dan lansia.

Latihan juga menguji apakah warga tetap mengikuti prosedur evakuasi atau justru kembali ke rumah untuk menyelamatkan barang ketika mendapatkan peringatan tsunami.

Ketua PMI Kabupaten, Jember Zainollah mengatakan latihan tersebut tidak sekadar menguji kecepatan warga mencapai titik kumpul. Tapi juga kemampuan masyarakat melakukan evakuasi secara mandiri dan membantu kelompok rentan.

“Latihan evakuasi komunitas ini untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapsiagaan masyarakat desa dalam melakukan evakuasi secara mandiri, cepat, tertib, dan aman ketika terjadi bencana,” kata Zainollah.

Selain itu, menurut dia, latihan menjadi sarana untuk melihat kepedulian warga terhadap anak-anak, lansia, serta masyarakat yang membutuhkan pendampingan selama proses evakuasi.

Setelah simulasi selesai, PMI Jember, Palang Merah Jepang, dan kelompok Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) melakukan evaluasi.

Evaluasi mencakup berbagai aspek, mulai dari perilaku warga selama evakuasi, kondisi jalur yang digunakan, titik kumpul, hingga kebutuhan pendampingan bagi kelompok rentan.

Hasil evaluasi tersebut akan digunakan untuk mengetahui bagian yang masih perlu diperbaiki dalam sistem evakuasi di masing-masing desa.

Latihan ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat pesisir Puger bahwa kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan mengetahui potensi bencana.

“Warga perlu memahami kapan harus menyelamatkan diri, jalur yang harus digunakan, serta bagaimana membantu orang di sekitarnya ketika tsunami benar-benar terjadi,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....