Edukasi dan Konsistensi Jadi Kunci Keberlanjutan Bank Sampah
- 31 Agt 2026 21:43 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Keberhasilan pengelolaan bank sampah tidak hanya bergantung pada aktivitas mengumpulkan dan menjual sampah. Edukasi, konsistensi anggota, serta dukungan lingkungan menjadi faktor penting agar kebiasaan memilah sampah dapat terus berjalan dan memberikan dampak jangka panjang.
Ketua BSU Sripeling, Siti Nursiatien, mengatakan salah satu cara menjaga antusiasme anggota adalah menjadikan kegiatan penimbangan sebagai ruang untuk berkumpul dan bersilaturahmi. Penimbangan dilakukan secara rutin setiap bulan sekaligus menjadi momentum untuk kembali memberikan edukasi kepada warga.
“Kita di sini programnya gampang aja. Kan setiap bulan kita ada timbang. Ada timbang dan kita edukasi itu. Memilah sampahnya juga kita sudah mengedukasi dan mereka sudah bisa,” ujar Siti Nursiatien dalam program UMKM Bicara Pro 1 Jember, Senin, 13 April 2026.
Untuk memberikan apresiasi kepada anggota yang aktif, pengelola BSU Sripeling juga memberikan hadiah sederhana. Namun, menurutnya, motivasi utama warga bukan semata-mata hadiah, melainkan kesempatan untuk berkumpul dan berinteraksi dengan sesama anggota.
“Mereka setiap bulannya itu kita bisa berkumpul dan bersilaturahim bersama ibu-ibu yang tadinya di rumah, mereka justru berbondong-bondong ke BSU,” katanya.
Sekretaris BSU Sripeling, Debriza Bridha Wityanisha menambahkan bahwa antusiasme warga terlihat dari keinginan mereka untuk mengetahui jadwal penimbangan berikutnya. Ketika sampah di rumah mulai terkumpul, warga bahkan aktif menanyakan kapan kegiatan penimbangan kembali dilaksanakan.
“Kalau kita satu bulan satu kali, itu warga selalu nanya, ‘Kapan penimbangan lagi? Kapan penimbangan lagi?’ Kayaknya sudah enggak sabar aja mau nimbang,” ujar Bridha di program siaran yang sama.
Untuk meningkatkan intensitas kegiatan, penimbangan juga dapat dilakukan lebih rutin sesuai kebutuhan. Bridha menyebut kegiatan tersebut dapat dilaksanakan seminggu sekali maupun dua kali dalam seminggu.
BSU Sripeling sendiri berkembang dari lingkungan PKK. Menurut Bridha, pembentukan bank sampah diawali dari pengurus PKK, kemudian dibentuk kepengurusan khusus bank sampah yang tetap berada di bawah naungan PKK RW.
Sementara itu, Sulistyawatiningsih dari BSU Al-Malika menekankan bahwa menjaga konsistensi dalam pengelolaan sampah membutuhkan kesabaran. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat tidak dapat dilakukan secara instan sehingga diperlukan ketekunan dan contoh nyata dari pengelola.
“Patient is hard. Menjadi sabar itu sangat sulit. Dan kesabaran itu dibutuhkan ketika kita menjaga konsistensi dalam menjaga lingkungan, terutama sampah,” ujarnya.
Ia berharap kesadaran masyarakat terhadap sampah dapat terus tumbuh, terutama di lingkungan yang berada dekat dengan sungai. Menurutnya, menjaga sampah dari rumah merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi risiko lingkungan, termasuk potensi banjir.
Sulistyawatiningsih juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah dan berbagai unsur masyarakat terhadap keberadaan bank sampah. Menurutnya, pengelola di tingkat lingkungan merupakan bagian kecil yang membutuhkan pembinaan dan dukungan agar program dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Saya ini adalah institusi terkecil yang membutuhkan bantuan, membutuhkan bimbingan, sehingga kita akan berjalan dengan baik ke depannya dengan dukungan orang-orang yang ada di atas. Yang ada di bawah kita akan menjalankannya,” katanya.
Hal senada disampaikan Siti Nursiatien. Ia mengajak masyarakat untuk membangun kesadaran bahwa sampah merupakan persoalan bersama yang muncul setiap hari dan perlu ditangani sejak dari sumbernya.
“Kita sadar bahwa sampah tidak akan pernah putus, sampah pasti ada setiap hari. Monggo, sadarkan kita dari diri kita masing-masing, dari kita pribadi untuk sadar akan sampah,” ujar Siti Nursiatien.
Menurutnya, sampah sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang. Dengan pemilahan dan pengelolaan yang tepat, sampah dapat diolah menjadi produk baru maupun memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Pengalaman BSU Al-Malika dan BSU Sripeling memperlihatkan bahwa keberlanjutan bank sampah membutuhkan kombinasi antara edukasi, kebiasaan, kegiatan rutin, apresiasi, serta kolaborasi. Kesadaran yang dimulai dari rumah kemudian dapat berkembang menjadi gerakan bersama di tingkat lingkungan.
Pada akhirnya, pengelolaan sampah bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga bentuk tanggung jawab masyarakat terhadap lingkungan sekaligus peluang untuk menciptakan manfaat ekonomi dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....