Mahasiswa Unej Sulap Kotoran Sapi Jadi POP

  • 31 Agt 2026 14:28 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Mahasiswa Universitas Jember atau UNEJ membangun model ekonomi sirkular di Desa Sukogidri, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember melalui Program Mahasiswa Berdesa atau PROMAHADESA.

Ketua Tim PROMAHADESA UNEJ Desa Sukogidri, Annufus Ilannajah, mengatakan, sebanyak 10 mahasiswa Unej bersama masyarakat dan kelompok tani mengubah kotoran sapi menjadi Pupuk Organik Padat (POP) melalui Program PROMAHADESA.

"Pupuk Organik Padat ini bisa diaplikasikan pada lahan pertanian, termasuk digunakan untuk budidaya tanaman okra," ujar Annufus Ilannajah, Senin, 31 Agustus 2026.

Inisiatif tersebut menawarkan pendekatan sederhana namun strategis, mengembalikan limbah peternakan ke dalam siklus produksi pertanian. Kotoran sapi tidak lagi sebagai persoalan, tetapi sebagai sumber bahan organik yang dapat diolah dan dimanfaatkan kembali.

Desa Sukogidri memiliki wilayah sekitar 363,337 hektare yang terbagi menjadi tiga dusun. Sebagian besar masyarakatnya menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian, sementara peternakan sapi menjadi salah satu aktivitas ekonomi pendukung.

"Nah, dua sektor yakni pertanian dan peternakan menciptakan potensi besar untuk membangun siklus pertanian berbasis sumber daya lokal," ucapnya.

Program tersebut berawal dari upaya penyelesaian persoalan kotoran sapi di desa tersebut. Kotoran sapi merupakan salah satu sumber daya yang selama tersedia namun tidak dikelola dengan baik.

“Kami akhirnya punya solusi untuk memanfaatkan kotoran sapi diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna yakni menjadi POP, yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian,” ujarnya.

Bersama masyarakat dan Ketua Kelompok Tani Desa Sukogidri, mahasiswa mengidentifikasi bahan-bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar. Kotoran sapi kemudian dipadukan dengan gedebok pisang, daun kering, dedak padi, dan jerami.

"Bahan-bahan itu dicampurkan, disusun, dan menjalani proses pengomposan dengan pembalikan secara berkala hingga menghasilkan POP yang matang dan siap digunakan," bebernya.

Pada program ini, masyarakat tidak ditempatkan sebagai penerima manfaat secara pasif. Masyarakat juga terlibat langsung dalam seluruh proses, mulai dari persiapan bahan, pembuatan pupuk, pemanenan, hingga pengaplikasian POP pada lahan pertanian.

"Tahapan ini memperlihatkan sebuah siklus sederhana, limbah peternakan diolah menjadi pupuk, pupuk dikembalikan ke tanah, dan tanah dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pertanian," bebernya.

Sementara itu, Dosen pembimbing PROMAHADESA UNEJ, Bayu Aprillianto menilai pendekatan tersebut memiliki nilai penting sebab, menghubungkan aspek lingkungan, pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan pemanfaatan sumber daya lokal dalam satu rangkaian kegiatan.

“Yang kami bangun bukan hanya keterampilan membuat pupuk. Lebih jauh, kami ingin masyarakat melihat hubungan antara limbah, sumber daya, dan produksi,” ucapnya.

Ia menambahkan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari berapa banyak POP yang dihasilkan, tetapi dari sejauh mana masyarakat mampu melanjutkan praktik tersebut secara mandiri.

“Mahasiswa pada akhirnya akan meninggalkan lokasi program. Karena itu, indikator pentingnya adalah apakah pengetahuan dan keterampilan yang ditransfer dapat terus dijalankan masyarakat. Inilah makna pemberdayaan yang sebenarnya,” imbuhnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....