Kepedulian Lingkungan sejak Dini, Keterlibatan Seluruh Warga Sekolah Jadi Kunci
- 26 Agt 2026 20:26 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Kepedulian terhadap lingkungan mulai ditanamkan sejak usia dini di jenjang sekolah dasar. Para siswa dibiasakan untuk tidak hanya memahami pentingnya menjaga kebersihan, tetapi juga terlibat langsung dalam memilah dan mengelola sampah di lingkungan sekolah.
Guru SDS Unggulan Nurul Huda Kalisat, Chilma Dharifah, S.Pd., mengatakan kepedulian terhadap lingkungan telah menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah sejak awal berdiri pada 2013. Menurutnya, sekolah yang berada di lingkungan pedesaan tersebut telah lama mendorong siswa untuk mengurangi sampah dan menjaga kebersihan lingkungan.
"Sudah lama di sekolah kami itu mengajarkan anak-anak untuk peduli terhadap lingkungan, peduli terhadap pengurangan sampah," ujar Chilma dalam program Green Radio di Pro 1 Jember, Sabtu (18/04/2026).
Ia menjelaskan, kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya ditanamkan kepada siswa, tetapi juga seluruh warga sekolah. Guru terlebih dahulu diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan sehingga tidak ada petugas khusus yang hanya bertanggung jawab terhadap kebersihan sekolah.
"Di sekolah kami dari awal berdiri itu tidak ada yang namanya ‘Pak Kebon’. Jadi semua warga sekolah adalah juga termasuk ‘Pak Kebon’," kata Chilma.
Menurutnya, seluruh warga sekolah terlibat dalam berbagai kegiatan kebersihan, mulai dari membersihkan kamar mandi dan halaman hingga memilah sampah. Pola tersebut dilakukan untuk membangun kebiasaan agar siswa terbiasa bertanggung jawab terhadap lingkungan di sekitarnya.
Guru SDS Unggulan Nurul Huda, Abdul Holik, S.Pd., menambahkan bahwa pembiasaan dilakukan melalui kegiatan piket harian yang melibatkan siswa dari berbagai jenjang kelas. Setiap kelas mendapatkan tugas masing-masing, mulai dari membersihkan halaman, memilah sampah, hingga menimbang sampah yang telah dikumpulkan.
"Kami itu yang dilakukan utama itu ada dibagi. Ada yang bersih-bersih halaman, ada yang bertugas memilah sampah, ada yang bertugas menimbang sampah," ujar Abdul Holik dalam program yang sama.
Kegiatan tersebut diterapkan mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Khusus siswa kelas muda, pembiasaan lingkungan juga dikaitkan dengan pendidikan karakter agar materi yang diberikan sesuai dengan usia dan karakter anak.
Abdul Holik menjelaskan, siswa kelas 1 dan 2 tidak hanya mendapatkan pembelajaran akademik, tetapi juga diperkenalkan pada pembentukan karakter, termasuk mengenali jenis sampah organik dan anorganik. Pendekatan melalui praktik dinilai lebih mudah diterima oleh anak-anak dibandingkan pemberian materi secara panjang.
Sementara itu, Chilma mengatakan hasil pemilahan sampah kemudian dimanfaatkan sesuai jenisnya. Sampah plastik diolah menjadi ecobrick, sedangkan sampah kertas dan botol yang memiliki nilai ekonomi dikumpulkan untuk kemudian ditimbang.
Menurut Chilma, pada tahap awal siswa memang perlu mendapatkan dorongan yang cukup kuat agar mau melakukan kebiasaan tersebut. Namun, pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus diharapkan dapat berkembang menjadi kesadaran dan budaya di lingkungan sekolah.
"Jadi kita ajarkan ke anak-anak pertama mungkin memang harus dipaksa dulu, karena dari lingkungan keluarga yang berbeda-beda. Kita ajarkan ke anak-anak, kita paksa dulu supaya jadi biasa, anak-anak itu. Setelah biasa nanti terbiasa dan akhirnya membudaya," jelasnya.
Ia menyebut siswa justru menunjukkan antusiasme ketika mendapatkan kesempatan untuk melakukan praktik langsung, termasuk memilah sampah dan membersihkan lingkungan sekolah.
Pembiasaan tersebut juga tidak berhenti di lingkungan sekolah. Chilma mengatakan siswa diberikan tanggung jawab untuk menerapkan kebiasaan menjaga kebersihan di rumah bersama keluarga. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari kontrol pembiasaan yang tetap berjalan meskipun siswa tidak berada di sekolah.
Anak-anak dapat mendokumentasikan kegiatan membersihkan lingkungan rumah melalui foto atau video untuk kemudian dikirimkan kepada wali kelas. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan diharapkan menjadi kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Chilma mengakui, penerapan kegiatan kebersihan bagi siswa sempat mendapat masukan dari sejumlah orang tua. Salah satunya terkait kegiatan membersihkan toilet yang dinilai cukup berat bagi anak-anak. Bahkan terdapat usulan agar sekolah menggunakan tenaga kebersihan khusus dengan biaya yang dibebankan melalui iuran.
Namun, pihak sekolah tetap mempertahankan kegiatan tersebut sebagai bagian dari proses pendidikan karakter. Menurut Chilma, siswa perlu memahami bahwa fasilitas yang digunakan untuk kepentingan mereka juga harus dirawat dan dibersihkan.
"Termasuk toilet itu kan digunakan untuk dirinya sendiri. Jadi kita mendidik kepada anak-anak, apa yang sudah kita keluarkan, ya kita bersihkan sendiri," ujarnya.
Abdul Holik menilai siswa sekolah dasar memiliki posisi strategis untuk menjadi agen perubahan dalam persoalan lingkungan karena karakter dan kebiasaan masih relatif mudah dibentuk pada usia tersebut. Menurutnya, kebiasaan yang ditanamkan sejak dini berpotensi terbawa hingga anak tumbuh dewasa. Bahkan, sebagian siswa mulai menerapkan kebiasaan yang diperoleh di sekolah ketika berada di rumah. Salah satunya adalah mengurangi penggunaan kemasan plastik dengan membawa tumbler atau botol minum yang dapat digunakan berulang kali.
"Pada saat umur segitu, anak-anak itu merupakan suatu kunci kita untuk membentuk karakter-karakter kepada anak didik kita," kata Abdul Holik.
Chilma menambahkan, pendidikan lingkungan sejak usia dini diharapkan dapat membentuk rasa tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan sendiri. Ketika kebiasaan tersebut telah tertanam, kepedulian terhadap lingkungan diharapkan semakin kuat seiring bertambahnya usia.
"Kalau sejak kecil sudah kita tanamkan terhadap anak-anak kepedulian terhadap lingkungan, harapan kita ketika kebiasaan itu nanti sudah tertanam terhadap diri anak tersebut, semakin anak itu dewasa insya Allah akan semakin kuat dan semakin peduli terhadap lingkungan di sekitar kita," ungkap Chilma.
Selain pengelolaan sampah dan kebersihan, SDS Unggulan Nurul Huda juga menerapkan konsep kantin sehat. Abdul Holik menjelaskan, pengelolaan kantin dilakukan dengan mempertimbangkan jenis makanan dan minuman yang dapat dikonsumsi siswa.
Sebelum kegiatan berjualan berlangsung, pihak sekolah terlebih dahulu melakukan pembahasan bersama pengelola kantin mengenai makanan yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan untuk dijual kepada siswa. Upaya tersebut menjadi bagian dari pendekatan sekolah dalam membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya bersih, tetapi juga mendukung kebiasaan hidup sehat.
Melalui pembiasaan yang dilakukan setiap hari, keterlibatan seluruh warga sekolah, serta dukungan keluarga, SDS Unggulan Nurul Huda Kalisat berupaya menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari karakter siswa. Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peran siswa sebagai agen perubahan dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memilah sampah, menjaga kebersihan, mengurangi plastik, dan membawa kebiasaan baik tersebut ke lingkungan keluarga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....