Mengenang Pahlawan; KHR As'ad Syamsul Arifin dan Pancasila.
- 14 Agt 2026 14:09 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Situbondo - Penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi bagi Nahdlatul Ulama (NU) tak lepas dari peran KHR As'ad Syamsul Arifin, Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Kiai kharismatik kelahiran Mekkah 1897 itu dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional pada 9 November 2016 oleh Presiden Joko Widodo karena keberaniannya melawan penjajah dan konsistensinya menjaga sikap kebangsaan. Salah satunya dibuktikan dengan perannya dalam penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi NU.
Dengan keberanian dan keikhlasannya, KHR As'ad Syamsul Arifin tegas memutuskan bahwa NU menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Bagi Kiai As'ad, Pancasila tidak bertentangan dengan syariat Islam. Kelima silanya merupakan cerminan dari ajaran Islam, khususnya sila pertama.
Pada satu kesempatan, Wakil Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Afifuddin Muhajir menceritakan, memang ada banyak pemikir yang terlibat dalam keputusan penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal, seperti KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur dan KH Achmad Siddiq, namun tanpa ketegasan dan keberanian yang disertai keikhlasan Kiai As'ad, penerimaan Pancasila tidak akan pernah terjadi.
Penerimaan itu, kemudian dikuatkan dengan hasil Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo pada tanggal 18-21 Desember 1983.
Meskipun telah diputuskan dalam Munas NU 1983, namun banyak kiai pengasuh pondok pesantren dari berbagai daerah di Indonesia serta para alim ulama yang hadir, belum menerima sepenuhnya dan masih terjadi pertentangan.
Ketegangan karena pertentangan itu akhirnya mereda saat Kiai As'ad Syamsul Arifin menegaskan bahwa NU itu berdasarkan Pancasila dan berakidah Islam Ahlusunnah Waljamaah. Kala itu, Kiai As'ad menegaskan Pancasila tidak bertentangan dengan akidah Islam.
Kelima sila Pancasila merupakan cerminan ajaran Islam. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa yang ditafsirkan sebagai nilai Tauhid atau keyakinan akan keesaan Allah. Jika dirunut, yang dimaksud Ketuhanan Yang Maha Esa adalah bahasa lain dari Surah Al-Ikhlas dalam Alquran ayat pertama yang artinya "Katakanlah (Muhammad) Dialah Allah Yang Maha Esa".
Dengan demikian, tidak ada satupun alim ulama yang menyanggah tafsiran itu. Meskipun dimungkinkan ada di antara para alim ulama yang punya alasan untuk menyanggahnya, namun tidak ada yang berani mengutarakan. Ini membuktikan bahwa sila pertama ditafsirkan sebagai keyakinan akan keesaan Allah SWT.
Semasa hidupnya, Kiai As'ad dikenal dengan ketaatan dan keteguhannya memegang ajaran Islam dan kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kiai kharismatik Ini juga menjadi bagian dari pejuang yang berperang merebut kemerdekaan dan menjadi penggerak Resolusi Jihad KH Hasyim Asy'ari pada tanggal 22 Oktober 1945 yang kemudian diperingati sebagai Hari Santri Nasional.
Kiai Afifuddin yang merupakan Wakil Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo menyatakan bahwa sikap gurunya (Kiai As'ad) tentang kebangsaan sudah menjadi sikap NU.
Sepanjang sejarah, NU tidak pernah menjadi pemberontak, sehingga bisa dipastikan selama NU masih eksis, NKRI akan tetap kuat bertahan.
"Sikap kenegaraan NU adalah loyalis kritis. Dengan memilih sikap itu, maka NU mendukung semua kebijakan pemerintah atau negara, namun tidak tinggal diam dengan penyimpangan yang terjadi" tutur Kiai Afifuddin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....