Tak Sengaja, Kantong Pakan Kucing Jadi Cara Petani Lumajang Atasi Monyet

  • 13 Agt 2026 15:46 WIB
  •  Jember
Poin Utama
  • Hama Monyet
  • Inovasi

RRI.CO.ID, LUMAJANG : Upaya petani di Desa Tunjung, Kecamatan Gucialit, Lumajang, menghadapi serangan monyet ekor panjang melahirkan inovasi sederhana yang tidak terduga. Kantong bekas kemasan pakan kucing yang awalnya hanya digunakan untuk membawa pupuk organik sekam, justru diamati efektif melindungi tanaman pisang dari serangan monyet.

Penyuluh Pertanian Terampil BPP Gucialit Lumajang, Subechan Yusuf, S.Tr.P, mengatakan temuan tersebut bermula secara tidak sengaja saat dirinya memberikan materi mengenai pupuk organik padat kepada kelompok tani.

Kantong pakan kucing yang digunakannya untuk membawa pupuk kemudian dibawa salah seorang petani. Pada pertemuan berikutnya, petani tersebut melaporkan bahwa kantong bekas pakan kucing yang digunakan untuk membungkus buah pisang ternyata membuat tanaman tidak lagi diserang monyet. “Pak, kantong pakan kucing yang Pak bawa itu ternyata efektif menanggulangi monyet,” kata Subechan menirukan laporan petani tersebut dalam Dialog Jember Menyapa RRI Jember, Kamis (13/8/2026).

Temuan tersebut kemudian tidak langsung diterapkan secara luas. Subechan bersama petani terlebih dahulu melakukan literasi dan diskusi kelompok terarah atau FGD untuk memahami karakteristik monyet sekaligus mencari alternatif penanganan yang tidak membahayakan satwa.

Petani bahkan menggali informasi dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Taman Botani sebelum melakukan uji coba melalui demonstrasi plot atau demplot.

Dari proses tersebut, disepakati tiga metode untuk diuji, yakni penggunaan waring jaring, kantong bekas pakan kucing, serta campuran terasi dan kapur barus yang ditempatkan di sekitar tanaman.

Hasil pengamatan awal menunjukkan kantong pakan kucing dan campuran terasi-kapur barus memberikan hasil yang menjanjikan.

Di salah satu blok demplot, tanaman pisang milik petani yang dibungkus menggunakan kantong pakan kucing tidak mengalami serangan. Sementara tanaman pisang di sekitar lokasi yang tidak mendapat perlakuan dilaporkan mengalami kerusakan. “Kantong pakan kucing itu efektif, sudah tidak terserang sama sekali,” ujar Subechan.

Efektivitas serupa juga diamati pada penggunaan campuran terasi dan kapur barus. Pada tanaman kopi, misalnya, tanaman yang diberi perlakuan dilaporkan tidak lagi mengalami gangguan. Pisang yang masih berukuran kecil dan sebelumnya kerap dirusak monyet juga terlihat lebih aman.

Menurut Subechan, serangan monyet dalam satu kali kedatangan dapat melibatkan 20 hingga 50 ekor. Kondisi tersebut membuat kerusakan tanaman menjadi persoalan serius bagi petani.

Namun, Subechan menekankan hasil demplot tersebut masih dalam tahap pengamatan. Karena itu, sebelum diterapkan secara lebih luas, metode tersebut perlu terus dievaluasi untuk melihat efektivitasnya hingga tanaman mencapai masa panen.

Atas hasil awal tersebut, kelompok tani berencana menyosialisasikan metode tersebut secara lebih luas kepada Pemerintah Desa Tunjung agar dapat diterapkan melalui pendampingan dan pengamatan bersama.

Menariknya, proses pencarian solusi tersebut juga membuat petani dan penyuluh melihat persoalan konflik manusia dengan monyet dari perspektif yang berbeda.

Subechan mengatakan, berdasarkan literasi dan informasi yang diperolehnya, monyet memiliki kemampuan mengingat yang kuat sehingga penanganan terhadap satwa tersebut sebaiknya tidak dilakukan dengan cara yang dapat memicu konflik.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan kekerasan terhadap monyet maupun memeliharanya tanpa penanganan yang tepat.

Menurutnya, persoalan serangan monyet tidak cukup diselesaikan hanya dengan menghalau satwa ketika datang. Pendekatan yang lebih aman perlu dilakukan dengan memahami perilaku satwa sekaligus melindungi tanaman petani.

Bagi Subechan, pengalaman di Tunjung menunjukkan bahwa solusi terhadap konflik manusia dan satwa liar bisa bermula dari hal sederhana. Temuan yang awalnya tidak disengaja dari sebuah kantong bekas pakan kucing kemudian berkembang menjadi eksperimen bersama petani, melalui proses literasi, FGD, demplot dan pengamatan lapangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....