Mengenal Ortodontik: Perawatan dan Bahaya Salah Penanganan Menurut Spesialis
- 11 Agt 2026 16:32 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Tren penggunaan kawat gigi atau behel belakangan ini semakin diminati oleh masyarakat luas. Namun, tidak sedikit yang masih menganggap bahwa merapikan posisi gigi hanyalah urusan estetika dan gaya hidup semata. Padahal, di balik senyuman yang rapi, ada fungsi kesehatan krusial yang berdampak langsung pada kualitas hidup seseorang.
Edukasi mendalam mengenai kesehatan gigi ini dikupas tuntas dalam program Dialog Khusus Pro 1 RRI Jember yang dipandu oleh presenter Yusnizar Sufi pada Selasa, 4 Agustus 2026. Acara yang bekerja sama dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) ini menghadirkan drg. Chandra Ardidarma, Sp. Ort, seorang Staf Medik Klinik Spesialis Gigi dan Mulut dari Rumah Sakit Daerah (RSD) Dr. Soebandi.
Dalam dialog tersebut, drg. Chandra menjelaskan bahwa ortodontik merupakan salah satu cabang spesialisasi ilmu kedokteran gigi yang berfokus pada pencegahan serta perawatan susunan gigi dan rahang yang tidak normal. Kondisi klinis yang kerap ditangani antara lain gigi tonggos, nyakil (rahang bawah lebih maju), hingga gigi berjarak atau berjejal.
"Perawatan ortodontik ini sebenarnya tujuan utamanya adalah mengembalikan fungsi kunyah sehingga menjadi normal. Karena kalau susunan giginya tidak pas, proses mengunyah makanan jadi tidak maksimal. Nanti bonus dari perawatan ini barulah tampilan estetika yang lebih baik," ungkap drg. Chandra Ardidarma, Sp. Ort.
Salah satu sorotan utama dalam siaran ini adalah peringatan tegas bagi masyarakat agar tidak mudah tergiur melakukan pemasangan behel di tempat yang tidak kompeten, seperti tukang gigi. drg. Chandra membagikan pengalamannya saat menangani pasien yang datang dengan kondisi susunan gigi yang justru semakin parah akibat salah penanganan awal. Menurutnya, tindakan merapikan gigi membutuhkan perencanaan medis yang matang melalui konsultasi dan foto ronsen, bukan sekadar menempelkan bracket tanpa perhitungan beban dan arah pergerakan gigi.
Mengenai usia ideal, drg. Chandra meluruskan persepsi masyarakat bahwa perawatan ortodontik sebenarnya tidak memandang batasan usia. Tindakan pencegahan awal sudah bisa dimulai sejak usia anak-anak sekitar 6 hingga 8 tahun. Bahkan, pasien dewasa hingga usia di atas 60 tahun pun masih memungkinkan menjalani perawatan ini, selama kondisi tulang penyangga giginya masih sehat dan kuat.
Dalam hal pilihan teknologi medis, ia menerangkan bahwa selain behel atau alat cekat yang menempel permanen, saat ini juga dikenal metode aligner atau alat lepasan transparan yang dinilai lebih fleksibel, meskipun dari segi biaya jauh lebih tinggi dan menuntut kedisiplinan tinggi dari pasien.
Di akhir dialog, drg. Chandra mengingatkan pentingnya kedisiplinan kontrol rutin sebulan sekali bagi para pengguna behel agar progres pergerakan gigi dapat terpantau sesuai rencana. Pasien juga diimbau untuk lebih teliti menjaga kebersihan mulut dengan sikat gigi khusus ortodontik, serta menyesuaikan gaya hidup dengan mengolah makanan yang bertekstur keras seperti memotong buah atau menghaluskan kerupuk agar tidak sampai merusak atau melepaskan bracket yang terpasang pada gigi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....