Peringati Pekan Menyusui Sedunia, CIMSA UNEJ Edukasi Soal Laktasi

  • 10 Agt 2026 12:16 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Proses pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif bukan sekadar pemenuhan nutrisi bayi, melainkan perjuangan fisik dan emosional yang memerlukan dukungan dari semua pihak. Isu ini dibahas dalam siaran Jaga Malam di Pro 2 RRI Jember 89.5 FM yang dipandu host Vita Karina, Sabtu, 8 Agustus 2026, mengusung topik "Di Balik Setiap Tetes ASI, Ada Perjuangan yang Tak Selalu Terlihat".

Diskusi dalam rangka memperingati Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week) ini menghadirkan perwakilan dari Standing Committee on Sexual & Reproductive Health and Right Including HIV & AIDS (SCORA) CIMSA Universitas Jember (UNEJ), Aulia Az Zahra.

Aulia menyampaikan bahwa masyarakat sering menganggap proses menyusui sebagai hal yang natural dan otomatis terjadi setelah persalinan. Padahal, ibu menyusui kerap menghadapi tantangan teknis seperti posisi pelekatan (latch) yang memicu rasa nyeri, hingga ancaman depresi pascamelahirkan (postpartum blues).

Secara medis, World Health Organization (WHO) merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. ASI mengandung nutrisi alami dan antibodi yang bertindak sebagai perlindungan pertama dari infeksi, sekaligus menurunkan risiko kanker payudara dan ovarium bagi sang ibu.

"Proses menyusui adalah perjalanan panjang yang penuh tantangan fisik, emosional, hingga sosial bagi seorang ibu. Melalui edukasi ini, kita ingin mengajak masyarakat melihat bahwa pemberian ASI bukan sekadar nutrisi bayi, tetapi ada cerita perjuangan yang tak selalu terlihat," ujar Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNEJ, Aulia Az Zahra.

Tingkat stres dan kondisi psikologis ibu juga memegang peranan krusial terhadap kelancaran produksi ASI. Stres dan kelelahan dapat memicu pelepasan hormon kortisol serta adrenalin yang menghambat kerja hormon oksitosin untuk mengalirkan ASI.

Oleh karena itu, kehadiran support system dari orang-orang terdekat, terutama suami (breastfeeding father), sangat dibutuhkan. Bantuan konkret seperti mengurus rumah tangga dan merawat bayi di malam hari dapat menurunkan tingkat kecemasan ibu secara signifikan.

"Dukungan suami dan keluarga adalah kunci utama keberhasilan masa menyusui. Suami memang tidak menyusui langsung, tetapi kehadiran fisik dan emosional suami di rumah bisa menurunkan tingkat stres ibu secara drastis," kata Aulia Az Zahra.

Selain tantangan di dalam rumah, ibu pekerja dan minimnya fasilitas publik juga menjadi perhatian khusus. Kurangnya ruang laktasi yang layak serta tempat penyimpanan ASI di perkantoran maupun tempat umum sering kali menyulitkan ibu untuk memerah ASI (pumping) dengan nyaman.

SCORA CIMSA UNEJ menegaskan bahwa menyusui di ruang publik merupakan hak dasar ibu dan kebutuhan pemenuhan nutrisi bayi yang alami. Masyarakat dan pihak pemberi kerja diimbau untuk menciptakan lingkungan yang ramah laktasi serta menghentikan stigma negatif terhadap ibu menyusui.

Keberhasilan cakupan ASI eksklusif tidak bisa hanya dibebankan kepada seorang ibu sendirian. Sinergi antara keluarga, tenaga kesehatan, instansi pemberi kerja, pemerintah melalui regulasi perlindungan maternitas, hingga masyarakat umum sangat diperlukan.

Persiapan edukasi laktasi idealnya dipelajari oleh calon ayah dan ibu sejak masa kehamilan. Dengan pemahaman teknik pelekatan yang benar dan pembagian peran yang matang, orang tua baru dapat lebih tenang dan percaya diri demi melahirkan generasi penerus bangsa yang sehat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....