Tekan Penyebaran Tolato, PG Gunakan Alat Penangkap Abu

  • 08 Agt 2026 19:09 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Situbondo - Pabrik Gula (PG) Pabrik Gula Panji, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, berupaya mengurangi polusi tolato melalui alat penangkap abu atau wet dust collector.

Manager Teknik PG Panji, Bahtiar Yudistira mengatakan, alat penangkap abu bekerja optimal dan mampu mengurangi polusi tolato yang dikeluhkan oleh sebagian masyarakat yang tinggal di sekitar Pabrik Gula Panji.

"Alat penangkap abu hasil pembakaran PG Panji ini mampu mengurangi polusi tolato yang dikeluhkan warga," ujar Bahtiar Yudistira, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Katanya, alat penangkap abu mampu menangkap sekitar 40 ton abu dalam 24 jam. Penanganan abu kering melalui penyiraman juga terus dilakukan untuk mencegah debu beterbangan ke permukiman warga.

"Jadi kami maksimalkan upaya menekan polusi tolato. Terbukti, alat penangkap abu ini bisa bekerja dengan baik," ucapnya.

Alat tersebut berfungsi menangkap abu hasil pembakaran ketel melalui sistem semprotan air. Abu yang tertangkap kemudian dialirkan menuju bak pengendap sebelum diangkut ke penampungan.

"Alat penangkap abu hasil pembakaran ketel ini, di dalamnya ada spray air untuk menangkap abu dan air," imbuhnya.

Perangkat pengendali emisi tersebut beroperasi setiap hari. Tenaga mekanik ketel juga melakukan pemeriksaan secara rutin untuk memastikan alat bekerja dengan baik selama proses produksi gula berlangsung.

"Hasil tangkapan abu kita alirkan ke bak pengendap. Setiap hari ada sekitar 40 ton abu, lalu diangkut ke tempat penampungan kami," katanya.

Hasil pantauan RRI, kondisi tolato di sekitar PG Panji jauh lebih terkendali dibandingkan sebelumnya. Pengoperasian alat penangkap abu terbukti mampu mengurangi sebaran debu ke lingkungan sekitar pabrik tebu.

"Tolatonya nyaris tidak ada. Biasanya kalau sudah musim giling mata saya sering terkena abu tolata, saat ini nyaris tidak ada," aku Salim, salah seorang tukang becak yang mangkal di sekitar PG Panji.

Ia berharap pengendalian abu dilakukan secara konsisten, terutama ketika cuaca panas dan angin bertiup kencang sehingga tidak mengganggu aktivitas dan kenyamanan masyarakat sekitar.

"Harus terus dikendalikan abu tolato itu, karena sangat mengganggu. Tahun-tahun berikutnya semoga tetap seperti ini atau lebih baik, tidak ada lagi tolato," tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....