Cuaca Ekstrem Paksa Nelayan Banyuwangi Hentikan Aktivitas Melaut
- 01 Agt 2026 13:12 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Banyuwangi – Cuaca ekstrem yang melanda perairan Banyuwangi dan Selat Bali dalam beberapa pekan terakhir memaksa banyak nelayan menghentikan aktivitas melaut. Angin timur yang bertiup kencang disertai gelombang tinggi membuat mereka memilih menyandarkan kapal demi keselamatan, meski harus kehilangan sumber penghasilan.
Kondisi tersebut dirasakan nelayan di sejumlah wilayah pesisir Banyuwangi, termasuk Kampung Mandar. Sejak sekitar sepekan terakhir, sebagian besar kapal nelayan memilih tetap bersandar sambil menunggu cuaca kembali bersahabat.
Salah satunya dialami Nanang (56), nelayan asal Plengsengan, Kelurahan Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi. Bersama tujuh anak buah kapalnya, ia sudah tujuh hari tidak melaut. Aktivitas sehari-hari kini diisi memperbaiki kapal dan peralatan tangkap sembari menunggu angin mereda.
"Dua bulan ini angin timur. Dua minggu terakhir anginnya makin kencang, jadi kami libur melaut," ujar Nanang, Sabtu 1 Agustus 2026.
Pria yang telah menjadi nelayan selama 26 tahun itu menuturkan, dampak cuaca buruk sebenarnya sudah terasa sejak pelayaran terakhirnya. Dalam kondisi normal, kapal yang dinakhodainya mampu membawa pulang hingga satu ton gurita selama 10 hari melaut di Perairan Plengkung. Namun kali ini hasil tangkapannya hanya sekitar 40 kilogram.
"Artinya sehari cuma dapat empat kilo. Sangat tidak cukup untuk menutup operasional dan penghasilan," kata Nanang.
Menurut Nanang, hasil tangkapan tersebut harus dibagi bersama tujuh anak buah kapal. Padahal, biaya operasional tetap harus dikeluarkan, sementara harga gurita sangat bergantung pada ukuran. Gurita berukuran besar bisa dijual hingga Rp100 ribu per kilogram untuk kebutuhan ekspor, sedangkan ukuran kecil hanya sekitar Rp30 ribu per kilogram di pasar lokal.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Nanang sementara beralih menjadi buruh harian dengan menerima pekerjaan seperti mengecat rumah maupun pekerjaan fisik lainnya. Ia mengaku langkah itu terpaksa dilakukan karena kebutuhan rumah tangga meningkat, terutama memasuki tahun ajaran baru sekolah.
Berdasarkan prakiraan BMKG, tinggi gelombang di Selat Bali bagian utara diperkirakan mencapai sekitar 1 meter dengan kecepatan angin hingga 20 knot atau sekitar 37 kilometer per jam. Sementara di Selat Bali bagian selatan hingga perairan selatan Banyuwangi, gelombang berpotensi mencapai 1,6 meter dengan angin hingga 21 knot atau sekitar 38 kilometer per jam. Kondisi tersebut membuat nelayan diminta tetap waspada dan mengutamakan keselamatan saat beraktivitas di laut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....