Ruang Budaya Menguak Penanggalan Jawa, Warisan Intelektual Leluhur
- 31 Jul 2026 17:33 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember: Ruang Budaya RRI Jember kembali menghadirkan ruang diskusi mendalam tentang kearifan lokal melalui tema Kawruh Penanggalan Jawa pada Kamis malam Jumat, 30 Juli 2026. Acara ini menghadirkan dua tokoh budaya Jawa yang mumpuni, yakni Bapa Raden Budi Siswanto, Pinisepuh Yayasan Puri Asih Mustika Jawa dan Ki Bagus Wijaya, Pinisepuh Padepokan Wahyu Purbo Sejati. Diskusi ini mengajak masyarakat untuk melihat kalender Jawa bukan lagi dari sudut pandang mistis semata, melainkan sebagai karya ilmiah intelektual dan bentuk pengamatan mendalam para leluhur terhadap fenomena alam semesta.
Dalam pemaparannya, Bapa Budi menekankan bahwa penanggalan Jawa lahir dari kebutuhan dasar manusia akan keteraturan dalam merespons perjalanan waktu dan pergantian musim.
"Leluhur Jawa secara tekun mengamati peredaran matahari, siklus bulan, hingga irama perilaku alam selama berabad-abad hingga melahirkan sebuah sistem penanggalan yang presisi. Penanggalan Jawa jangan terburu-buru dipandang sebagai sesuatu yang mistis ataupun sekadar alat meramal, melainkan harus kita pahami sebagai warisan intelektual dan pengalaman kearifan leluhur dalam membaca keteraturan alam. Budaya Jawa mengajarkan keseimbangan. Neptu adalah salah satu cara leluhur menyusun keteraturan hidup. Nilainya bukan terletak pada angkanya, melainkan pada ajakan untuk berpikir, berhati-hati, mempertimbangkan, dan tidak bertindak serampangan." ujar Bapa Budi.

Melengkapi perspektif historis tersebut, Ki Bagus menguraikan struktur matematis dan kosmologis yang mendasari penanggalan Jawa, khususnya perpaduan antara dua siklus hari yang berjalan beriringan.
"Adanya Saptawara, siklus tujuh hari seperti yang dikenal secara umum dan Pancawara, yaitu siklus lima hari khas Jawa yang terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, serta Kliwon. Kombinasi unik dari kedua siklus berulang inilah yang menghasilkan perpaduan hari yang spesifik seperti Senin Legi atau Selasa Kliwon. Jangan sampai kita menganggap angka sebagai penentu nasib. Tetapi jangan pula kita menolak seluruh warisan leluhur hanya karena belum memahami cara berpikir mereka." kata Ki Bagus.
Lebih lanjut, Ki Bagus meluruskan kaprah masyarakat umum mengenai konsep weton yang kerap kali disederhanakan hanya sebagai hari lahir belaka. Menurutnya, weton sejatinya merupakan titik pertemuan geometris waktu antara Saptawara dan Pancawara dalam satu putaran kosmologis. Melalui acara Ruang Budaya ini, diharapkan pemahaman publik terhadap kebudayaan Jawa semakin berbobot, ilmiah, dan berakar kuat pada penghargaan atas kejeniusan lokal (local genius) para leluhur Nusantara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....