Ketika Luka Tak Menghentikan Pengabdian

  • 20 Jul 2026 15:05 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Siang itu, Kamis, 11 Desember 2025, jalanan Kota Lumajang mulai ramai. Sejumlah pelajar baru saja meninggalkan sekolah lebih awal karena ujian semester.

Tak jauh dari keramaian itu, Aiptu Susanto Kurniawan, yang saat itu bertugas sebagai Kanit Binmas Polsek Ranuyoso, duduk bersama dua rekannya di sebuah warung kopi sederhana selepas dinas.

Secangkir kopi menemani obrolan ringan tentang situasi keamanan dan ketertiban, rutinitas yang kerap mereka lakukan setelah bertugas. Namun dalam hitungan menit, suasana berubah drastis.

Di tengah obrolan itu, perhatian Kurniawan tertuju pada dua pria di sekitar area parkir. Gerak-geriknya mencurigakan. Naluri yang terasah selama bertahun-tahun sebagai penyidik, mendorong untuk mendekatinya.

Dugaannya benar. Kedua pria itu sedang berupaya membawa kabur sebuah sepeda motor. Menyadari aksinya dipergoki, mereka panik, meninggalkan motor tersebut dan langsung melarikan diri.

“Begitu kami dekati, mereka langsung kabur. Langsung saya dan rekan-rekan mengejarnya,” kata Kurniawan kepada RRI, melalui sambungan telepon, Senin (20/7/2026).

Pengejaran pun dimulai. Dari Jalan Suwandi, melewati Alun-alun Lumajang, Jalan Gajah Mada, Pasar Besar, hingga Jalan Toga. Di sepanjang perjalanan, Kurniawan menghubungi petugas siaga agar menghadang pelaku dari arah depan.

Tepat di Jalan Toga, motor pelaku menabrak seorang pelajar yang hendak menyeberang. Kedua pelaku terjatuh. Satu pelaku yang berada di lokasi kecelakaan sempat menjadi sasaran amukan massa.

Di tengah kepanikan itu, pelaku lainnya melarikan diri. Warga dan sejumlah pelajar berusaha mengejarnya, sementara Kurniawan berupaya mengamankan pelaku yang masih berada di lokasi.

Saat itulah keadaan berubah menjadi pertarungan hidup dan mati. “Ketika hendak saya tangkap, pelaku mengeluarkan senjata tajam dan tiba-tiba badan saya terasa panas,” ujarnya.

Setelah tubuhnya terasa panas, ia menyadari tangan kanannya robek. Sabetan berikutnya mengenai kepala. Luka paling parah menganga di bagian perut hingga ususnya keluar. Dalam kondisi itu, ia pun memilih mundur.

“Saya menghindar karena kalau saya teruskan, nyawa saya juga terancam,” katanya.

Namun, pelaku masih berusaha mengejar dan menyerangnya. Beruntung, pelaku itu tersandung hingga memberi kesempatan bagi Kurniawan untuk segera menyelamatkan diri.

“Pelaku yang sempat melarikan diri, berhasil ditangkap. Sedangkan pelaku yang menyerang saya, ia melarikan diri dan sempat DPO,” katanya.

Masih dalam keadaan sadar, ia meminta bantuan warga untuk membawanya ke rumah sakit. “Saya dibantu dan dibonceng sama warga. Sampai rumah sakit saya masuk ke IGD,” ujarnya.

Bagi Kurniawan, risiko bukanlah hal baru. Selama 26 tahun bertugas di Kepolisian Resor (Polres) Lumajang, ia telah berpindah dari satu penugasan ke penugasan lain.

Kurniawan merasakan langsung beragam karakter wilayahnya. Lumajang memiliki bentang alam yang lengkap, mulai kawasan pegunungan, perbukitan, hingga pesisir.

Kondisi tersebut membuat tantangan tugas kepolisian pun beragam. Misalnya, saat menjadi Kanit Reskrim Polsek Candipuro, ia bertugas di wilayah yang berada di lereng Gunung Semeru.

Ancaman yang dihadapinya bukan hanya pelaku kejahatan, tetapi juga erupsi Gunung Semeru. Ketika sirene peringatan berbunyi, polisi tak hanya menjaga keamanan.

Tapi juga ikut mengevakuasi warga dan menghalau orang-orang yang nekat mendekati kawasan berbahaya demi merekam letusan.

“Kami mengimbau masyarakat agar menjauh, karena situasinya sangat berbahaya,” katanya.

Baginya, menghadapi bencana maupun kriminalitas memiliki esensi yang sama. “Tugasnya sama. Yang penting bagaimana kita melindungi masyarakat,” katanya.

Ia mengaku, profesi itu memang telah ia pilih sejak muda. Ia ingin menjadi abdi negara dan melayani masyarakat. Tak ada anggota keluarganya yang menjadi polisi. Pilihan itu lahir dari keyakinannya sendiri.

“Saya percaya setiap orang memiliki jalan pengabdiannya masing-masing. Allah mempertemukan saya dengan profesi ini,” katanya.

Bagi Kurniawan, menjadi polisi bukan sekadar pekerjaan. “Menjadi seorang polisi adalah sebuah amanah,” katanya.

Dukungan Menjadi Obat

Selama satu pekan, Kurniawan menjalani perawatan intensif. Setelah kondisinya membaik, ia diperbolehkan pulang dengan syarat sudah mampu berjalan dan duduk sendiri.

Perjalanan pemulihan ternyata jauh lebih panjang. Hingga kini ia masih rutin menjalani terapi. Otot besar di tangan kanannya putus akibat sabetan senjata tajam. Pergerakannya belum kembali normal.

“Kalau vonis dari dokter itu katanya tangan kanan saya ini cacat permanen,” katanya.

Kalimat itu sempat mengguncangnya. Namun, ia menolak menyerah. “Saya berpikir saya harus pulih. Harus bisa menulis, bisa tanda tangan, bisa bekerja di komputer,” katanya.

Aiptu Susanto Kurniawan saat menjalani proses pemulihan. Foto: Dok. Aiptu Susanto Kurniawan

Sekitar dua bulan setelah kejadian, ia kembali mengenakan seragam. Demi memudahkan proses terapi, ia sempat dimutasi ke Polsek Sukodono, yang lokasinya lebih dekat dengan rumah dan Rumah Sakit Bhayangkara.

Tak lama kemudian, ia kembali dimutasi. Kini ia bertugas sebagai Kasubsi Bankum Seksi Hukum Polres Lumajang.

“Tiga hari setelah peristiwa itu, pelaku yang DPO itu berhasil ditemukan di Pasuruan. Namun, karena menyerang petugas lagi, dilakukan tindakan tegas terukur dan meninggal,” ujarnya.

Di balik luka yang dideritanya, ada luka lain yang turut dirasakan keluarga. Istrinya mengetahui kabar pembacokan itu saat sedang bekerja.

Sementara kedua anaknya yang kuliah di Surabaya justru mengetahui peristiwa tersebut dari media sosial yang ramai memberitakan insiden itu.

“Saya sebagai suami dan seorang ayah bisa merasakan betapa beratnya perasaan istri dan anak-anak saat melihat kondisi saya, kala itu,” katanya.

Namun, tak seorang pun memintanya berhenti menjadi polisi. Sebaliknya, keluarga menjadi sumber kekuatan terbesarnya.

“Dukungan keluarga adalah obat yang tidak kalah penting dibanding pengobatan medis,” katanya.

Ada hal yang juga tak pernah ia lupakan dari peristiwa itu. Tak lain adalah dukungan masyarakat.

Saat pengejaran berlangsung, warga ikut membantu menangkap pelaku. Bahkan saat ia dirawat, banyak warga datang menjenguk, mendoakan, hingga sekadar memastikan kondisinya membaik.

“Saya sangat mengapresiasi kepedulian dan keberanian masyarakat yang mau membantu,” katanya.

Pengalaman itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab polisi. Tapi hasil kerja sama antara aparat dan masyarakat.

“Dalam menjalankan tugas di lapangan kami tidak bisa bekerja sendiri. Kepercayaan, kepedulian, dan kerja sama masyarakat menjadi kekuatan yang sangat berarti,” ujarnya.

Selama bertugas sebagai Kanit Binmas di Polsek Ranuyoso, ia pun aktif membangun komunikasi dengan warga melalui penyuluhan, pembentukan pos kamling, serta mendorong masyarakat memanfaatkan layanan darurat 110.

Baginya, keamanan selalu lahir dari kerja sama.

Hari Bhayangkara dan Tantangan Membangun Kepercayaan

Pengalaman Kurniawan memperlihatkan satu hal, bahwa keberhasilan polisi tidak pernah berdiri sendiri. Di balik setiap pengungkapan perkara, ada kepercayaan masyarakat yang menjadi fondasi.

Kepercayaan itulah yang kini menjadi salah satu fokus utama Polri pada Hari Bhayangkara ke-80, dengan mengusung tema 80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, menegaskan bahwa Polri harus terus berkembang bersama rakyat.

Menurutnya, perlindungan, pelayanan, pengayoman, dan penegakan hukum menjadi orientasi utama pengabdian kepolisian.

Berdasarkan data Polda Jawa Timur, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri mencapai 86,6 persen. Namun kepercayaan tersebut dinilai harus terus dijaga melalui pelayanan yang konsisten.

"Presiden menyampaikan keamanan merupakan modal utama pembangunan. Polri akan selalu hadir melindungi, melayani, membantu, dan menegakkan hukum," ujarnya, (1/7/2026).

Aiptu Susanto Kurniawan saat bertugas menghadiri musyawarah desa. Foto: Dok. Aiptu Susanto Kurniawan

Komitmen itu berjalan beriringan dengan tantangan membangun kepercayaan publik. Guru Besar Filsafat Universitas Gadjah Mada, Prof. Armaidy Armawi, menilai Hari Bhayangkara ke-80 seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi institusi Polri.

Menurutnya, pembenahan tidak cukup hanya melalui reformasi organisasi. Tapi harus dimulai dari penguatan budaya institusi yang berakar pada nilai Tribrata, Catur Prasetya, dan Pancasila.

“Kalau ada polisi, masyarakat seharusnya merasa tenang,” ujarnya, dikutip dari laman ugm.ac.id, Selasa (7/7/2026).

Ketika budaya pelayanan dan integritas dijaga, lanjutnya, perilaku institusi akan mengikuti, dan dari sanalah kepercayaan publik dapat tumbuh.

Pengalaman Kurniawan seakan menunjukkan bagaimana kepercayaan itu bekerja di lapangan.

Baginya, keberhasilan polisi tidak hanya diukur dari banyaknya kasus yang berhasil diungkap. Tapi juga dari kepercayaan masyarakat yang tumbuh melalui hubungan yang baik.

Di Lumajang, kepercayaan itu pernah hadir dalam bentuk yang sederhana. Warga yang ikut mengejar pelaku, membopong seorang polisi yang terluka ke rumah sakit, lalu datang menjenguknya selama masa pemulihan.

Bagi Kurniawan, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa seragam yang ia kenakan bukan sekadar simbol kewenangan.

Seragam adalah pengingat bahwa di balik setiap tindakan, ada amanah yang harus dijaga.

“Risiko dalam bertugas merupakan bagian dari pengabdian yang telah saya pilih,” ujarnya.

Luka di tubuhnya mungkin akan meninggalkan bekas. Tangan kanannya belum pulih sepenuhnya. Namun, keyakinannya tidak berubah sejak pertama kali mengenakan seragam lebih dari dua dekade lalu.

Menjadi polisi, baginya, bukan sekedar profesi. Melainkan pengabdian yang dipilih untuk menjaga rasa aman bersama masyarakat.

“Semoga kehadiran Polri benar-benar dapat memberikan rasa aman serta menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Saya berharap hubungan baik antara Polri dan masyarakat terus terjaga,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....