Soe Tjen Marching: Sastra Hidupkan Suara yang Terpinggirkan

  • 12 Jun 2026 05:06 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Sastra tidak hanya cerita, tetapi juga menjadi medium untuk menghidupkan kembali suara-suara yang kerap terpinggirkan dalam sejarah. Gagasan tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik dan Refleksi Kritis buku Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching yang digelar Pusat Studi Gender (PSG) Universitas Jember bekerja sama dengan Program Studi Magister Linguistik Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNEJ dan Penerbit Marjin Kiri, Kamis, 11 Juni 2026.

Rektor Universitas Jember, Iwan Taruna, mengapresiasi penyelenggaraan diskusi yang menghadirkan ruang dialog akademik mengenai kemanusiaan, sejarah, dan keadilan sosial. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempertemukan berbagai gagasan secara terbuka dan kritis.

“Perguruan tinggi seperti UNEJ tidak hanya menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang dialog tempat berbagai gagasan bertemu, diuji, dan diperkaya. Kemajuan lahir dari keterbukaan untuk membaca, mendengar, dan mendiskusikan berbagai perspektif secara kritis dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Ia menambahkan, membaca sejarah dari berbagai perspektif penting untuk memperkaya pemahaman sebagai bangsa. “Membaca sejarah dari berbagai perspektif bukan untuk memperpanjang perbedaan, tetapi untuk memperkaya pemahaman kita sebagai bangsa yang satu,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, Soe Tjen Marching menjelaskan bahwa Dari Dalam Kubur berawal dari penelitian yang semula dirancang sebagai buku akademik. Namun, pengalaman bertemu dengan seorang perempuan narasumber mendorongnya memilih jalur fiksi agar kisah-kisah yang ditemuinya dapat tersampaikan lebih kuat kepada pembaca.

Ia juga menjelaskan bahwa judul novel tersebut terinspirasi dari ungkapan dalam karya Tan Malaka.

“Tentang Dari Dalam Kubur, memang banyak yang bertanya apakah ada kaitannya dengan film Suzanna. Saya sampaikan mungkin ada. Karena saya terinspirasi dari karya Tan Malaka yang berkata ‘dari dalam kubur’ dan saya merasa ini pas dengan novel saya,” katanya.

Menurut Soe Tjen Marching, sastra memiliki kekuatan besar dalam memengaruhi cara pandang masyarakat melalui bahasa dan tulisan. Ia mencontohkan tulisan Ki Hajar Dewantara berjudul Seandainya Aku Seorang Belanda yang mampu mengguncang pemerintah kolonial.

“Dulu yang bisa menggoncangkan Belanda itu dari tulisan. Oleh karena itu, kita perlu belajar linguistik dan memahami kekuatan bahasa,” ujarnya.

Pandangan tersebut diperkuat Dwi Pranoto dari Marjin Kiri. Menurutnya, kekuatan fiksi terletak pada kemampuannya menghadirkan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan penyampaian informasi semata.

“Secara informatif, persoalan kolonial sudah banyak dibahas melalui pamflet atau pidato. Tetapi ketika dituliskan dalam bentuk fiksi seperti Max Havelaar, dampaknya justru jauh lebih besar dan mampu mengubah cara pandang masyarakat Belanda,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua PSG UNEJ, Dr. Linda Dwi Eriyanti, S.Sos., M.A., menyoroti bahwa perempuan masih sering menghadapi konstruksi sosial yang membatasi ruang geraknya. Ia mendorong perempuan untuk berani memanfaatkan ruang kebebasan yang dimiliki.

“Kalau merasa memiliki ruang untuk terbebas dari stereotipe, maka lakukanlah,” ujarnya.

Melalui diskusi ini, peserta diajak melihat sastra tidak sekadar sebagai karya artistik, melainkan juga sebagai medium refleksi kritis yang mampu menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang kerap terpinggirkan dari narasi besar sejarah.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....