Rupiah Melemah, Operator Ferry Tekan Biaya Perawatan
- 07 Jun 2026 20:58 WIB
- Jember
RRI.CO.ID Banyuwangi- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menekan operasional kapal ferry di lintasan Jawa-Bali. Kenaikan harga oli hingga suku cadang impor membuat biaya perawatan kapal melonjak dalam beberapa bulan terakhir.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat mencapai Rp18.095 per Minggu, 7 Juni 2026. Kondisi tersebut membuat operator kapal harus melakukan efisiensi untuk menjaga operasional tetap berjalan.
Ketua Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Jawa Timur, I Putu Gede Widiana, mengatakan lonjakan harga oli menjadi beban terbesar bagi perusahaan kapal ferry.
Menurut Putu, sebelum konflik Timur Tengah memanas, harga oli kapal produksi Pertamina berada di kisaran Rp4,5 juta per drum berkapasitas 209 liter. Namun pada April 2026 naik menjadi Rp6,95 juta dan kembali melonjak menjadi Rp9,33 juta per drum pada awal Juni 2026. Satu kapal ferry membutuhkan sekitar 2 hingga 4 drum oli dalam sekali pergantian. Penggantian oli rata-rata dilakukan setiap 500 sampai 1.000 jam operasional.
“Yang paling terasa kenaikan harga oli yang lebih dari dua kali lipat,” ujar Putu, Minggu, 7 Juni 2026.
Tidak hanya oli, sejumlah sparepart kapal seperti filter oli dan nozzle injector juga mengalami kenaikan harga karena masih bergantung pada produk impor yang mengikuti kurs dolar AS.
“Produk yang bagus itu impor dan harganya mengikuti kurs dolar AS,” kata Putu.
Akibat biaya operasional yang terus meningkat, operator kapal mulai menunda penggantian sejumlah komponen yang dinilai masih bisa diperbaiki. Langkah efisiensi dilakukan pada sektor yang tidak berkaitan langsung dengan keselamatan pelayaran.
“Barang yang harusnya diganti tapi masih bisa dibersihkan ya dibersihkan dulu. Pipa-pipa yang bisa dilas ya dilas dulu,” ucap Putu.
Ketua Gapasdap Banyuwangi, Nurjatim, mengatakan hingga saat ini belum ada operator kapal di lintasan Jawa-Bali yang berencana mengurangi tenaga kerja meski pengeluaran perusahaan meningkat.
“Isu pengurangan tenaga kerja tidak ada. Tapi pengeluaran memang meningkat,” ujar Nurjatim.
Pihak operator berharap pemerintah segera melakukan penyesuaian tarif penyeberangan karena tarif dinilai sudah lama tidak mengalami kenaikan di tengah membengkaknya biaya operasional kapal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....