Mahasiswa UNEJ Raih Juara di OGIP 2026

  • 02 Jun 2026 21:40 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Lautan yang tenang tidak akan pernah melahirkan pelaut yang hebat. Filosofi lawas itulah yang dipegang teguholeh enam mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) saat mereka memutuskan melangkah ke salah satu panggung kompetisi energi paling sengit di dunia akademis Oil and Gas Intellectual Parade (OGIP) 2026.

Bukan perkara mudah. Di hadapan mereka, isu perubahan iklim dan tuntutan dekarbonisasi global berdiri sebagai tantangan nyata. Namun, di bawah bendera "Tim Spontan", kelompok mahasiswa lintas disiplin ilmu ini justru melihat peluang emas dari sesuatu yang telah dianggap habis: lapangan minyak dan gas bumi yang telah mati (mature field).

Melalui riset mendalam, mereka menyusun sebuah gagasan radikal namun realistis berjudul, “Repurposing the OGIP Field into an Integrated Offshore CCS Hub: A Phased Source-Transport-Storage Strategy for Safe, Adaptive, and Bankable CO2 Storage”.

Sederhananya, mereka merancang teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk "menangkap" emisi karbon dioksida (CO2) dari aktivitas industri, mengangkutnya, dan menyuntikkannya kembali ke dalam perut bumi—tepat di bekas reservoir migas yang sudah tak berproduksi. Mengubah ancaman atmosfer menjadi simpanan aman di bawah tanah.

Kehebatan inovasi ini tidak lahir dari satu sudut pandang saja. Ide besar ini mengalir dari ruang-ruang diskusi yang mempertemukan berbagai disiplin ilmu di Kampus Tegalboto.

Di lini depan, ada Muhammad Fakhri Yaqadan Jouhari, Mohammad Naufal Wahyudin, dan Moh. Aldora Abel Afilyanta dari Prodi Teknik Perminyakan yang mematangkan analisis geologi dan pemodelan reservoir. Dari aspek mekanis, Sandy Yoga Ramadona (Teknik Mesin) memastikan sistem transportasi karbon berjalan lancar.

Sementara itu, Evril Afriza Enandy (Teknik Lingkungan) mengawal agar proyek ini ramah ekologi, dan Esta Meizya Zella Putri (Ekonomi Pembangunan) menyusun kalkulasi bisnis agar proyek ini bankable atau layak investasi.

“Saat ini, industri migas tidak hanya dituntut untuk memproduksikan minyak dan gas saja. Kita punya tanggung jawab besar untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih, aman, dan berkelanjutan,” ujar Muhammad Fakhri Yaqadan Jouhari, ketua tim, merefleksikan keresahannya Senin, 1 Juni 2026.

Pada bulan Mei 2026, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta menjadi saksi bisu klimaks dari perjuangan mereka. Setelah menyisihkan puluhan tim dari berbagai belahan dunia di babak preliminary daring, Tim Spontan UNEJ berhasil menembus posisi Top 6 dan berhak tampil di babak final.

Suasana ruang presentasi mendadak pekat oleh ketegangan. Setiap tim hanya diberi waktu 10 menit untuk memaparkan proposal Plan of Development (POD) mereka. Namun, ujian sesungguhnya baru dimulai pasca-presentasi: sesi debat maraton selama 100 menit di hadapan dewan juri dan praktisi industri senior.

Di bawah rentetan pertanyaan kritis mengenai risiko kebocoran reservoir hingga hitung-hitungan ekonomi yang konservatif, Tim Spontan bertahan. Strategi komunikasi yang taktis dan penguasaan materi yang matang menjadi perisai mereka.

Melalui penilaian yang super ketat, Tim Spontan UNEJ akhirnya berhasil mengamankan podium ketiga (Juara 3) skala internasional. Mereka berdiri sejajar dengan tim tangguh dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menduduki posisi pertama dan kedua.

Hasil Akhir OGIP 2026 (Kategori POD)

Fokus Inovasi Juara 1 Institut Teknologi Bandung (ITB)

Integrated Field Development

Juara 2 Institut Teknologi Bandung (ITB) Optimization & Eco-Drilling

Juara 3 Universitas Jember (UNEJ) Offshore CCS Hub & Carbon Storage

Bagi Fakhri dan kawan-kawan, piala dari Yogyakarta bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah bahan bakar baru untuk melangkah lebih jauh. Mereka membuktikan bahwa mahasiswa dari daerah mampu berbicara banyak di level internasional dan memberikan kontribusi nyata bagi target global menuju Net Zero Emissions.

“Sebagai mahasiswa, kita tidak boleh hanya diam di bangku perkuliahan saja. Anak muda sudah sewajarnya mencoba banyak hal baru,” kata Fakhri dengan nada optimis.

Baginya, kegagalan di masa lalu adalah guru terbaik untuk kemenangan hari ini. Langkah Tim Spontan kini menjadi bukti bahwa dari sudut Jember, sebuah solusi untuk iklim dunia bisa dilahirkan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....