Ecogreen, Unmuh Jember Bagikan Daging Kurban Dengan Besek

  • 28 Mei 2026 14:38 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember: Aroma anyaman bambu terasa khas di halaman Universitas Muhammadiyah Jember saat perayaan Idul Adha 1447 Hijriah. Di tengah kesibukan panitia membagikan daging kurban, ratusan besek bambu tertata rapi menggantikan kantong plastik yang selama ini lazim digunakan.

Rektor Universitas Muhammadiyah Jember Dr. Hanafi M.Pd Bukan sekadar wadah, besek itu menjadi simbol cara baru kampus memaknai kurban lebih ramah lingkungan, memberdayakan masyarakat, sekaligus menjaga tradisi lokal dan UMKM tetap hidup.

“Seperti biasa, setiap tahun kita adakan seperti itu untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar dan juga karyawan di sini. Tahun ini sapinya empat ekor dan kambingnya dua ekor,” kata Hanafi Rabu, 27 Mei 2026.

Tahun ini, kampus yang dikenal sebagai Unmuh Jember tersebut menyiapkan sekitar 600 besek untuk distribusi daging kurban. Langkah itu menjadi bagian dari komitmen eco-green dan konsep green campus yang terus digaungkan kampus.

Di lokasi penyembelihan, suasana tampak berbeda. Tidak terlihat tumpukan plastik sekali pakai yang biasanya memenuhi area distribusi. Sebagai gantinya, besek-besek bambu berjajar sambil menebarkan kesan tradisional yang hangat.

“Lebih mantap pakai besek. Besek ini bisa menghidupi UMKM, ramah lingkungan juga, dan higienis,” ujar Nasirudin salah satu unsur masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Kepala Biro BP3A Unmuh Jember, Silman Farisi, mengatakan penggunaan besek bukan keputusan spontan. Ada kesadaran bersama untuk menjadikan momentum Idul Adha sebagai praktik nyata kepedulian lingkungan.

“Jadi kita menggunakan besek karena kesadaran akan lingkungan. Alasan kedua, kita kampus unggul wajib harus menggunakan konsep eco-green atau green campus. Jadi salah satunya diwajibkan dari itu, makanya kita pakai besek dan juga mengurangi sampah plastik,” ujarnya.

Pada Idul Adha tahun ini, Unmuh Jember menyembelih empat ekor sapi dan dua ekor kambing untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar dan karyawan kampus.

Menurutnya, penggunaan besek juga menjadi cara kampus membantu perputaran ekonomi pelaku UMKM lokal. Awalnya panitia berencana memesan besek dari perajin di Jember. Namun tingginya permintaan membuat stok terbatas.

“Pembelian besek kemarin merencanakan di Jember saja, karena ternyata pengerajinnya terbatas, hanya ada di Tanggul. Itu pun pengajuannya banyak pesanan. Akhirnya kita cari di Bondowoso, tepatnya di Desa Wringin,” jelasnya.

Desa Wringin di Bondowoso dikenal memiliki perajin anyaman bambu yang biasa membuat wadah tradisional untuk tape dan pindang ikan. Dari sana, panitia akhirnya memesan ratusan besek untuk kebutuhan kurban.

“Harga kemarin itu dapat Rp3.000, karena kita pesan lumayan banyak jadi dipotong menjadi Rp2.500,” tambahnya.

Bagi Unmuh Jember, Idul Adha tahun ini bukan hanya soal pembagian daging kurban. Di balik besek-besek bambu itu, ada pesan tentang hubungan manusia dengan alam, tentang ekonomi kerakyatan, dan tentang bagaimana tradisi sederhana bisa menjadi solusi kecil bagi persoalan lingkungan. Di tangan para panitia dan warga, besek yang dulu dianggap tradisional justru hadir sebagai simbol modernitas yang lebih bijak sederhana, bersih, dan berkelanjutan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....