Sekolah Rakyat Jember: Dari Anak Tak Betah Jadi Lebih Mandiri
- 23 Mei 2026 05:49 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Program Sekolah Rakyat di Jember mulai menunjukkan perubahan signifikan terhadap kedisiplinan, kemandirian siswa, sejak berjalan pada Agustus 2025.
Kepala Sekolah Rakyat Jember, Kartika Sari Dewi, mengatakan tantangan terbesar pada awal program adalah membiasakan siswa menjalani pola hidup teratur di lingkungan asrama.
Menurutnya, mayoritas siswa berasal dari latar belakang yang beragam dan sebelumnya terbiasa hidup bebas di lingkungan masing-masing.
“Di satu bulan pertama kami berjuang untuk membuat anak-anak betah dan bisa mengikuti keteraturan di asrama,” ujarnya dalam dialog luar studio RRI Jember, Jumat (22/5/2026).
Kartika menjelaskan, pembentukan disiplin dilakukan secara bertahap mulai dari membiasakan salat berjamaah, salat duha, hingga akhirnya salat tahajud.
Ia menilai perubahan paling menonjol saat ini terlihat pada keteraturan dan kemandirian siswa dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
“Yang dulu jam makan sering molor, sekarang sudah mulai on time. Anak-anak juga mulai bertanggung jawab terhadap barang-barangnya sendiri,” katanya.
Menurut Kartika, perubahan tersebut paling terasa pada siswa sekolah dasar yang sebelumnya masih sangat bergantung pada pendamping.
“Untuk menjadikan anak usia 6 sampai 7 tahun mandiri itu tantangan luar biasa. Tapi progresnya sudah mulai terlihat,” ujarnya.
Selain kedisiplinan, perubahan perilaku dan etika siswa juga mulai berkembang positif selama tinggal di asrama.
“Yang awalnya secara sopan santun masih kurang, sekarang sudah mulai terlihat perubahan bagaimana beradab kepada guru dan pengasuh,” katanya.
Kartika mengakui pada awal program berjalan, pihak sekolah menghadapi tantangan dalam membiasakan siswa menjalani aktivitas yang teratur.
Namun kini, siswa dinilai mulai mampu mengikuti pola hidup disiplin dan kegiatan asrama dengan lebih tertib.
“Yang dulu tidak betah ingin pulang, sekarang malah kebalikannya, anak-anak malah tidak mau pulang. Jadi betah di asrama,” ujarnya.
Kartika menjelaskan, Sekolah Rakyat merupakan implementasi dari Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang optimalisasi pengentasan kemiskinan.
Konsep sekolah berasrama diterapkan agar siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik, tetapi juga pembinaan karakter, keterampilan, pemenuhan gizi, hingga layanan kesehatan secara terpadu.
“Tujuannya untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan,” katanya.
Kartika menjelaskan, Sekolah Rakyat Jember mulai beroperasi pada 15 Agustus 2025 dengan menerima siswa dari keluarga desil 1 dan desil 2, termasuk anak-anak yang sebelumnya putus sekolah.
Kondisi tersebut membuat kemampuan dasar siswa tidak merata, terutama dalam hal kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.
Karena itu, pihak sekolah menyiapkan program pendampingan khusus bagi siswa yang masih mengalami kesulitan literasi dan numerasi.
“Anak-anak yang belum lancar membaca dan menulis dibimbing setiap hari oleh guru. Sekarang sudah mulai terlihat peningkatan kemampuan dasar mereka,” katanya.
Selain peningkatan akademik, pihak sekolah juga mencatat perkembangan pada aspek kesehatan dan gizi siswa.
Menurut Kartika, kondisi kesehatan siswa kini lebih baik dibanding awal masuk sekolah, termasuk berkurangnya kasus penyakit akibat rendahnya daya tahan tubuh.
“Dulu anak-anak sering sakit dan pernah ada wabah cacar cukup lama. Sekarang sudah mulai berkurang karena ada pendampingan kesehatan dan pemenuhan gizi,” ujarnya.
Sekolah Rakyat juga menyediakan layanan kesehatan dan pendampingan BPJS bagi siswa yang sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu.
Menurut Kartika, banyak siswa sebelumnya memiliki BPJS tidak aktif akibat tunggakan iuran. Namun persoalan tersebut kini mulai diselesaikan melalui pendampingan bersama Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan.
“Jadi ada sekitar 5 persen yang tunggakannya lumayan besar, yaitu 3 juta. Ini akan menjadi PR untuk kami, untuk segera kami selesaikan,” tambahnya.
Sementara itu, Kabid Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Jember, Moh Irfan Pratama, mengatakan Dinas Sosial turut mendukung program Sekolah Rakyat.
Mulai dari proses pendataan, verifikasi calon siswa, hingga pendampingan sosial. Sejumlah pendamping rehabilitasi sosial juga dilibatkan menjadi wali asuh dan wali asrama.
“Mereka memang sudah ekspert di bidang anak. Karena Sekolah Rakyat bukan sekolah reguler biasa, kita ada pendekatan rehabilitasi sosialnya juga,” ujarnya.
Ia menilai, program Sekolah Rakyat menjadi langkah penting dalam upaya pengentasan kemiskinan karena membantu memutus siklus kemiskinan yang selama ini diwariskan antargenerasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....