UKM-K Dolanan Raih Juara 3 National Dance Competition.

  • 20 Mei 2026 22:36 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember — Denting musik yang biasanya menjadi penanda langkah para penari justru tak selalu terdengar di ruang latihan Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian (UKM-K) Dolanan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. Dalam keheningan, kaki-kaki tetap bergerak, tubuh menyesuaikan ritme yang tak terdengar, dan ekspresi terus mengalir. Bagi mereka, tari bukan sekadar hitungan gerak, melainkan soal rasa.

Di balik teknik latihan yang unik, UKM-K Dolanan juga membawa konsep besar dalam setiap pertunjukannya: keberagaman Indonesia. Lewat tarian, mereka mencoba merangkum warna budaya Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Unsur dari delapan daerah dipadukan dalam satu pertunjukan, menghadirkan cerita tentang Indonesia yang beragam namun tetap menyatu.

“Konsepnya keberagaman, jadi tiap gerakan itu mewakili karakter daerah yang berbeda, tapi tetap disatukan dalam satu alur yang utuh,” ujar Diah Ayuk Wulandari, salah satu anggota tim Rabu, 20 Mei 2026.

Di balik penampilan yang memukau di atas panggung, tersimpan proses panjang yang tak banyak diketahui orang. UKM-K Dolanan FTP UNEJ menjalani metode latihan yang berbeda dari kebanyakan kelompok tari. Mereka kerap berlatih tanpa iringan musik demi membangun kepekaan terhadap gerakan dan penghayatan yang lebih dalam.

Bagi tim ini, harmoni tak lahir dari suara semata. Setiap penari dilatih agar mampu merasakan alur gerak, memahami transisi, dan membangun keterhubungan dengan anggota lain tanpa bergantung pada irama eksternal.

Setelah latihan selesai, proses belum berhenti. Evaluasi terbuka menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka. Setiap anggota diberi ruang untuk saling memberi masukan, memperbaiki kekurangan, sekaligus memperkuat kebersamaan.

Tak hanya itu, mereka juga rutin melakukan sesi full run, simulasi pertunjukan layaknya tampil di panggung sebenarnya. Dalam sesi ini, seluruh anggota dituntut mengerahkan energi, fokus, dan mental penuh.

Konsep itu bukan sekadar koreografi, tetapi juga pesan. Bahwa perbedaan bukan penghalang untuk berjalan bersama, melainkan kekuatan yang bisa menciptakan harmoni.

Namun perjalanan mereka tidak selalu mudah.

Di sela padatnya jadwal kuliah dan latihan, rasa lelah, jenuh, bahkan keinginan menyerah pernah datang menghampiri. Tekanan fisik dan mental menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.

Yang membuat mereka bertahan bukan semata target kemenangan, tetapi dukungan satu sama lain. Kebersamaan menjadi ruang pulang ketika semangat mulai melemah.

Momentum Hari Tari Sedunia juga menjadi pengingat bagi Diah tentang makna tari yang lebih luas. Menurutnya, tari bukan hanya soal pertunjukan, tetapi bahasa universal yang menyimpan identitas dan cerita.

“Tari bukan sekadar gerakan, tetapi juga bentuk ekspresi diri, identitas budaya, dan sarana untuk menyampaikan cerita,” katanya.

Ia menilai generasi muda memiliki tanggung jawab penting dalam menjaga keberlangsungan budaya, termasuk melalui pemanfaatan media sosial dan inovasi karya agar seni tari semakin dekat dengan masyarakat.

Harapan itu bukan tanpa alasan. Sebab kerja keras UKM-K Dolanan telah membuahkan hasil. Awal tahun ini, tim yang beranggotakan Diah Ayuk Wulandari, Anita Mawar, Moh. Zayid Zidane, dan Aprilia Purwanti berhasil meraih Juara 3 dalam National Dance Competition.

Bagi mereka, prestasi hanyalah satu titik dalam perjalanan panjang. Sebab yang paling penting bukan sekadar trofi yang dibawa pulang, melainkan bagaimana gerak sederhana di atas panggung mampu menyampaikan pesan besar: Indonesia selalu menemukan caranya untuk bersatu.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....