Banjir Sukodono Jadi Alarm Cuaca Ekstrem Lumajang

  • 15 Mei 2026 21:45 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Lumajang – Banjir luapan menerjang permukiman warga di Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Jumat dini hari, 15 Mei 2026. Peristiwa yang terjadi di tengah musim kemarau itu menjadi peringatan meningkatnya ancaman cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

Hujan deras yang mengguyur kawasan hulu Gunung Semeru sejak Kamis malam, 14 Mei 2026, menyebabkan debit sungai meningkat drastis hingga meluap ke permukiman warga di sepanjang aliran sungai.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lumajang, Isnugroho, menyebut peristiwa tersebut sebagai anomali cuaca yang harus diwaspadai masyarakat.

“Curah hujan di wilayah hulu cukup tinggi dan berlangsung lama sehingga menyebabkan debit air meningkat drastis. Kondisi ini menjadi anomali cuaca yang perlu diwaspadai bersama,” ujar Isnugroho, Jumat, 15 Mei 2026.

Menurutnya, wilayah di sepanjang aliran sungai berhulu Semeru memiliki potensi terdampak banjir luapan saat terjadi hujan ekstrem di kawasan pegunungan. Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat perlu terus diperkuat, mulai dari memahami jalur evakuasi hingga memantau informasi resmi kebencanaan.

Isnugroho menegaskan cuaca ekstrem kini dapat terjadi sewaktu-waktu meski sudah memasuki musim kemarau. Warga diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi.

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Lumajang mendorong penguatan literasi kebencanaan melalui sinergi BPBD, perangkat desa, Komunitas Informasi Masyarakat (KIM), Media Center, dan jaringan humas pemerintah daerah.

Kolaborasi lintas lembaga dinilai penting agar informasi kebencanaan yang diterima masyarakat lebih cepat, akurat, dan mampu mencegah penyebaran hoaks saat situasi darurat.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang, Yudhi Cahyono, mengatakan perubahan pola curah hujan akibat perubahan iklim membuat sejumlah wilayah di Jawa Timur mengalami cuaca ekstrem di luar musim.

“Mitigasi bencana bukan sekadar respons saat kejadian berlangsung, tetapi membangun budaya sadar risiko melalui edukasi, ketepatan informasi, dan gotong royong masyarakat,” ujar Yudhi.

BPBD sebelumnya juga telah mengimbau wilayah rawan banjir dan longsor untuk memperkuat sistem peringatan dini dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sepanjang tahun.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....