Dari Sarjana ke Petani, Anak Muda Banyuwangi Ubah Wajah Pertanian

  • 01 Mei 2026 16:16 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Siapa bilang bertani bukan lagi pilihan anak muda? Di Banyuwangi, stigma itu perlahan runtuh. Di tengah hamparan lahan hijau, muncul generasi baru petani yang tak hanya menanam, tapi juga berinovasi.

Paul Corneles Hariyono, misalnya. Lulusan Teknik Sipil ini memilih jalur yang tak biasa, dengan membangun usaha melon hidroponik di desanya, Purwoharjo. Berbekal belajar mandiri dari media sosial, ia kini mengelola greenhouse “Virgin Farm” dengan 550 tanaman melon premium.

“Kita punya potensi besar. Sayang kalau tidak dimanfaatkan,” ujar Paul, Jum'at 1 Mei 2026

Dalam waktu tiga bulan, kebunnya hampir panen. Melon yang ditanam memiliki kualitas unggul, dengan harga jual mencapai Rp30 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram. Ia bahkan bersiap membuka wisata petik buah.

Langkah serupa ditempuh Rega, pemuda 29 tahun asal Desa Karetan. Ia mengembangkan sistem pertanian terintegrasi dalam satu lahan.

Di atas lahan 1 hektare, Rega memadukan tanaman, peternakan, dan perikanan. Limbah ternak diolah menjadi pupuk, sementara sisa tanaman dimanfaatkan sebagai pakan.

“Semuanya saling terhubung, jadi lebih efisien dan ramah lingkungan,” kata Rega.

Perubahan wajah pertanian di Banyuwangi ini tidak terjadi begitu saja. Pemerintah daerah secara konsisten mendorong regenerasi petani melalui berbagai program, salah satunya Jagoan Tani.

“Anak muda adalah masa depan pertanian. Dengan kreativitas mereka, sektor ini bisa terus berkembang,” ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Kamis, 30 April 2026.

Program tersebut telah melahirkan ratusan petani milenial yang kini aktif dari hulu hingga hilir pertanian.

Kini, pertanian bukan lagi sekadar pekerjaan tradisional. Di tangan generasi muda Banyuwangi, sektor ini berubah menjadi ruang inovasi, peluang usaha, sekaligus harapan baru bagi ketahanan pangan daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....