Regenerasi Petani Banyuwangi, Anak Muda Makin Tertarik

  • 01 Mei 2026 10:07 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus mendorong regenerasi petani melalui berbagai program, salah satunya Jagoan Tani. Sejak digulirkan pada 2021, program ini berhasil melahirkan ratusan petani milenial yang kini terjun di sektor pertanian dengan berbagai inovasi, Jumat, 1 Mei 2026.

Sejak menjabat sebagai Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu program prioritas. Berbagai program digulirkan untuk menarik minat generasi muda agar terjun ke dunia pertanian.

“Banyuwangi memiliki potensi sangat besar di pertanian. Karena itu sektor ini menjadi salah satu program prioritas kami. Regenerasi penting agar anak-anak muda tertarik dengan pertanian,” ujar Ipuk, Kamis, 30 April 2026.

Salah satu program unggulan adalah Jagoan Tani. Melalui program ini, pemkab memberikan pendampingan, menghadirkan mentor dan praktisi, serta memberikan stimulus modal bagi generasi muda untuk berwirausaha di sektor pertanian.

Sejak diluncurkan, program tersebut telah mencetak ratusan petani milenial. Mereka bergerak dari hulu hingga hilir, mulai dari budidaya hingga pemasaran produk olahan.

“Program ini kami arahkan untuk anak muda. Dengan kreativitas mereka, sektor pertanian bisa menjadi tulang punggung pangan sekaligus penggerak ekonomi daerah,” ujar Ipuk.

Hasilnya mulai terlihat di berbagai desa di Banyuwangi. Banyak anak muda terjun ke sektor pertanian dengan inovasi yang beragam dan bernilai ekonomi tinggi.

Salah satunya adalah Paul Corneles Hariyono, pemuda asal Desa Purwoharjo, Kecamatan Purwoharjo. Lulusan Teknik Sipil tersebut sukses mengembangkan greenhouse melon hidroponik premium di desanya.

Meski awalnya tidak memiliki latar belakang pertanian, Neles tertarik karena melihat potensi besar Banyuwangi.

“Kita punya lahan subur, sinar matahari sepanjang tahun, air melimpah, dan iklim yang baik. Sayang kalau tidak dimanfaatkan,” ujar Neles.

Ia mengaku banyak belajar secara mandiri melalui berbagai sumber, termasuk media sosial, untuk mengembangkan usahanya. Usaha “Virgin Farm” itu mulai dikembangkan sejak 3 bulan lalu. Saat ini, ia menanam 550 batang melon varietas premium seperti sweet lavender, sweet honey, dan dalmatian.

Melon tersebut memiliki rasa lebih manis dan tekstur renyah, dengan harga jual berkisar Rp30.000 hingga Rp45.000 per kilogram. Tak hanya fokus pada budidaya, Neles juga berencana mengembangkan lahannya menjadi destinasi wisata petik buah.

Selain Neles, ada pula Rega, pemuda 29 tahun asal Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo. Ia sukses menerapkan sistem pertanian terintegrasi (integrated farming) di lahan seluas 1 hektare.

Rega menggabungkan budidaya tanaman jeruk dan jagung dengan peternakan domba serta perikanan nila. Ia memelihara lebih dari 100 ekor domba berbagai jenis, seperti cross merino, cross texel, dan cross batur.

Limbah peternakan dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik. Sementara batang jagung diolah menjadi silase untuk pakan ternak, dan air kolam ikan digunakan sebagai nutrisi tanaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....