Harga Gas Naik, Resto Bersiap Naikkan Tarif

  • 21 Apr 2026 09:07 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Bondowoso – Kenaikan harga gas elpiji non-subsidi mulai berdampak pada pelaku usaha kuliner di Bondowoso. Selain pengusaha hotel, sejumlah pemilik restoran juga berancang-ancang menaikkan harga jual makanan akibat lonjakan biaya operasional.

Salah satu pelaku usaha yang terdampak adalah Cafe dan Resto Orilla di Kelurahan Nangkaan. Pemiliknya, Indah, mengaku penggunaan gas non-subsidi di tempat usahanya mencapai 4 hingga 6 tabung per pekan, tergantung tingkat kunjungan pelanggan.

“Pakai gas non subsidi seminggu kalau ramai bisa habis pemakaian 6 tabung,” jelas Indah.

Ia menyebut, kenaikan harga gas yang terjadi bersamaan dengan naiknya sejumlah bahan pokok membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, biaya operasional meningkat, namun di sisi lain ada kekhawatiran daya beli masyarakat menurun jika harga dinaikkan.

“Karena dengan menaikkan harga akan berpengaruh juga pada omset,” terangnya, Selasa (21/4/2026).

Indah mengaku tengah mempertimbangkan opsi menaikkan harga hingga sekitar 20 persen. Namun, keputusan tersebut belum diambil dalam waktu dekat karena masih menunggu perkembangan omzet dan kondisi pasar.

“Masih mau dihitung ulang dengan beberapa pertimbangan,” ungkapnya.

Meski menghadapi tekanan biaya, ia memastikan tidak akan melakukan pengurangan tenaga kerja. Menurutnya, keberlangsungan usaha tetap diupayakan tanpa mengorbankan karyawan.

Sebelumnya, kondisi serupa juga dihadapi sektor perhotelan. Manajer Hotel Palm Bondowoso, Esterlita, mengatakan pihaknya mengalami kenaikan biaya operasional hingga hampir 20 persen akibat lonjakan harga gas LPG non-subsidi.

“Bisa hampir 20 persen kenaikannya ya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, hotelnya menggunakan gas Bright 12 kilogram dengan konsumsi sekitar 3 tabung per pekan. Saat ini, harga gas tersebut mencapai sekitar Rp245 ribu per tabung di tingkat pengecer.

Dengan kondisi tersebut, pihak hotel berencana menaikkan harga makanan sekitar 5 persen guna menjaga keseimbangan operasional.

“Pastinya kami akan menaikkan harga untuk penjualan kami. Kalau gak gitu, kan gak balance,” terangnya.

Diketahui, PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga LPG non-subsidi secara nasional sejak Jumat (18 April 2026). Harga Bright Gas 12 kilogram naik sekitar Rp36 ribu menjadi Rp228 ribu per tabung di tingkat agen, sementara di pengecer dapat mencapai Rp245 ribu. Adapun Bright Gas 5,5 kilogram naik Rp17 ribu menjadi Rp107 ribu per tabung.

Meski kenaikan harga tidak menurunkan volume penjualan secara signifikan di Bondowoso, lonjakan biaya ini mendorong pelaku usaha mulai menyesuaikan strategi, termasuk mempertimbangkan kenaikan harga jual produk mereka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....