Ini Alasan Kereta Tak Bisa Mengerem Mendadak
- 09 Apr 2026 07:25 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 9 Jember mengedukasi masyarakat terkait sistem pengereman kereta api yang tidak dapat bekerja secara instan.
Pemahaman ini dinilai penting untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di sekitar jalur rel dan perlintasan sebidang.
Manager Hukum dan Humas Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, menjelaskan bahwa kereta api menggunakan teknologi rem udara (air brake system), yang bekerja secara terintegrasi di seluruh rangkaian.
“Kereta api tidak menggunakan sistem rem seperti kendaraan jalan raya. Sistem rem kereta bekerja dengan tekanan udara, di mana tekanan normal dalam pipa rem sekitar 5 bar,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
“Ketika masinis melakukan pengereman, tekanan ini justru diturunkan untuk mengaktifkan rem pada seluruh rangkaian,” tambahnya.
Ia menambahkan, udara bertekanan tinggi yang dihasilkan kompresor lokomotif disimpan dalam reservoir utama dengan tekanan sekitar 8 hingga 10 bar.
Saat pengereman dilakukan, tekanan di pipa rem dikurangi. Sehingga memicu udara dari reservoir tambahan mengalir ke silinder rem, lalu menekan brake block hingga menghasilkan gaya gesek (friksi).
“Pada kondisi pengereman penuh, tekanan di silinder rem dapat mencapai sekitar 3,38 hingga 4,5 bar untuk menghasilkan gaya pengereman yang optimal,” kata dia.
Namun demikian, proses pengereman kereta api tidak dapat terjadi secara instan. Hal ini disebabkan oleh besarnya gaya dorong atau inersia akibat massa kereta yang sangat besar.
Sehingga membutuhkan jarak tertentu untuk mengubah energi kinetik menjadi energi panas melalui proses gesekan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi jarak pengereman kereta api.
“Yaitu kecepatan kereta, di mana semakin tinggi kecepatan, semakin panjang jarak pengereman. Lalu berat rangkaian, karena kereta dengan beban besar memiliki gaya inersia lebih tinggi, sehingga lebih sulit dihentikan,” kata Cahyo.
Selain itu, juga panjang rangkaian. Semakin panjang kereta, semakin lama distribusi tekanan udara ke seluruh sistem rem. Kondisi rel dan cuaca juga memengaruhi, karena rel basah atau licin dapat mengurangi daya cengkeram roda terhadap rel.
“Hal lainnya yang mempengaruhi, yaitu jenis sistem pengereman dan kemiringan jalur (gradien), artinya jalur menurun membutuhkan jarak pengereman yang lebih panjang,” kata dia.
Berdasarkan simulasi teknis, jarak pengereman kereta api dapat mencapai ratusan meter hingga lebih dari 800 meter, tergantung kecepatan dan beban. Sebagai gambaran:
- 45 km/jam: ± 132 meter
- 60 km/jam: ± 221 meter
- 80 km/jam: ± 379 meter
- 100 km/jam: ± 505 meter
- 120 km/jam: ± 800–860 meter
“Artinya, saat masinis mulai mengerem, kereta tidak langsung berhenti di tempat. Dibutuhkan jarak yang panjang hingga kereta benar-benar berhenti sempurna,” kata Cahyo.
Dengan kondisi tersebut, KAI menekankan pentingnya kesadaran masyarakat, khususnya saat melintas di perlintasan sebidang maupun beraktivitas di sekitar jalur kereta api.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak menerobos perlintasan sebidang. Kereta tidak dapat berhenti mendadak, sehingga potensi risiko kecelakaan sangat tinggi jika aturan diabaikan,” kata dia.
Selain itu, masyarakat juga dilarang melakukan aktivitas di jalur rel, seperti berjalan, bermain, maupun kegiatan lainnya yang dapat membahayakan keselamatan.
KAI menegaskan bahwa keselamatan perjalanan kereta api merupakan tanggung jawab bersama.
“Dukungan masyarakat dalam mematuhi aturan menjadi faktor penting dalam menciptakan perjalanan kereta api yang aman, selamat, dan nyaman,” kata dia.
Sebagai bentuk komitmen, Daop 9 Jember terus melakukan perawatan sarana dan prasarana secara berkala, meningkatkan kompetensi petugas, serta memperluas edukasi keselamatan kepada masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....