Langkah ALIT Indonesia untuk Kesetaraan Hak Anak
- 31 Mar 2026 18:24 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember- Pada masa awal reformasi di Indonesia, kekerasan dan eksploitasi terhadap anak-anak marjinal menjadi persoalan serius yang kerap luput dari perhatian publik. Kondisi tersebut mendorong Yuliati Umrah, alumni S1 Ilmu Politik Universitas Airlangga tahun 1999, untuk mengambil langkah nyata dengan mendirikan Yayasan Arek Lintang (ALIT) Indonesia. Didirikan di Surabaya pada 22 April 1999, ALIT Indonesia hadir sebagai organisasi sosial yang berfokus pada pemenuhan hak-hak anak, khususnya bagi kelompok marjinal. Yayasan ini mengusung visi menciptakan kesetaraan akses bagi anak-anak, yang diwujudkan melalui upaya peningkatan kualitas hidup serta advokasi kebijakan di tingkat lokal maupun nasional.
Yuliati Umrah, perempuan asal Pamekasan ini mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada isu sosial telah tumbuh sejak masa sekolah menengah. Bekal akademik yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga turut memperkuat langkahnya dalam merintis gerakan sosial ini.
“Saya dan lima teman mendirikan ALIT karena konsistensi dalam menangani persoalan sosial, khususnya eksploitasi dan kekerasan terhadap anak-anak marjinal,” ujar Yuliati, Pendiri dan Direktur Eksekutif ALIT Indonesia.
Dalam perjalanannya, ALIT Indonesia menegaskan fokus gerakannya pada upaya memahami akar penyebab ketidakadilan yang dialami anak-anak. Pendekatan ini dilakukan dengan mengkaji berbagai persoalan pada tingkat mikro, yang kemudian menunjukkan pola serupa di berbagai wilayah. Temuan tersebut menjadi dasar dalam merumuskan strategi untuk mendorong kesetaraan hak anak secara lebih sistematis.
"Pada 2025, ALIT melakukan evaluasi melalui survei baseline di delapan wilayah, yakni Surabaya, Pasuruan, Jember, Banyuwangi, Sumenep, Gianyar, Sikka, dan Batu. Hasilnya menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Sebanyak 70 persen dari 1.500 siswa sekolah dasar tidak mendapatkan sarapan yang layak dan lebih banyak bergantung pada uang jajan. Survei ini juga menemukan bahwa anak-anak usia dini jarang mengonsumsi makanan rumahan karena kedua orang tua bekerja. Mayoritas keluarga mengandalkan makanan instan serta penggunaan penyedap sintetis, sementara pengetahuan tentang bahan pangan sehat, termasuk rempah dan sayur, masih sangat terbatas, baik pada anak maupun orang tua berusia 25 hingga 45 tahun." ucapnya.
Kondisi ini sejalan dengan laporan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta yang menyebutkan satu dari lima anak Indonesia berisiko mengalami penyakit kronis, seperti diabetes, gagal ginjal, penyakit autoimun, hingga kanker. Risiko tersebut diduga berkaitan erat dengan pola asuh dan pola makan yang kurang sehat di lingkungan keluarga. Menanggapi temuan tersebut, ALIT Indonesia kini memfokuskan programnya pada pendampingan anak usia dini beserta keluarganya. Upaya ini diarahkan untuk menciptakan perubahan mendasar dalam pola hidup, guna memastikan anak-anak tumbuh sehat dan terhindar dari penyakit kronis di masa depan.

ALIT Indonesia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung upaya tersebut. Dukungan dari berbagai elemen, seperti institusi pendidikan, taman kanak-kanak, organisasi perempuan, posyandu, puskesmas, serta lembaga keagamaan dan adat, dinilai krusial dalam menciptakan ekosistem yang berpihak pada tumbuh kembang anak. Pada masa emas perkembangan anak, ketika mereka mampu menyerap jutaan kosakata sebagai fondasi keterampilan hidup, pengenalan terhadap pola asuh dan pola makan sehat menjadi hal yang tidak terpisahkan. ALIT meyakini bahwa setiap anak berhak atas kehidupan yang sehat, yang dimulai dari lingkungan keluarga. Melalui komitmen tersebut, ALIT Indonesia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut berperan dalam membangun kesadaran kolektif demi menciptakan generasi yang lebih sehat dan berdaya.
Kiprah Yuliati Umrah dalam memperjuangkan kesetaraan gender serta perlindungan dan pemberdayaan anak telah mendapat pengakuan internasional. Ia tercatat masuk dalam daftar 80 Pemimpin Strategis Dunia yang dirilis oleh Bureau of Educational and Cultural Affairs, sejajar dengan sejumlah tokoh global. Selain itu, ia juga meraih penghargaan Entrepreneur of the Year dari Ernst & Young pada 2020. Pada tahun yang sama, Yuliati terpilih sebagai peserta International Visitor Leadership Program (IVLP) yang diselenggarakan Pemerintah Amerika Serikat, serta dinobatkan sebagai salah satu dari dua alumni terbaik program tersebut dari Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....