Konflik Timur Tengah, 10 PMI Jember di Dubai Tunda Pulang Lebaran
- 10 Mar 2026 08:42 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Sedikitnya 10 pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Jember yang bekerja di Dubai, Uni Emirat Arab, terdampak situasi konflik di kawasan Timur Tengah. Akibat kondisi tersebut, rencana mereka untuk pulang dan merayakan Lebaran bersama keluarga terpaksa tertunda.
Ketua Migrant Care Jember, Bambang Teguh, mengatakan informasi tersebut diperoleh dari pemantauan dan komunikasi dengan para pekerja migran serta keluarga mereka di Jember. Menurutnya, para PMI tersebut sebelumnya telah merencanakan pulang ke tanah air saat momen Idulfitri. Namun situasi keamanan di sekitar wilayah tempat mereka bekerja membuat kepulangan tidak memungkinkan untuk sementara waktu.
“Bandara di Dubai sempat terdampak serangan dan ada pangkalan militer yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal atau tempat kerja PMI kita,” ujarnya, saat Halo RRI, Senin 9 Maret 2026.
Bambang menjelaskan, hingga saat ini komunikasi dengan para PMI asal Jember tersebut masih berjalan lancar. Pihaknya bersama keluarga juga terus memantau kondisi mereka.
Sementara itu, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) juga telah memberikan nomor kontak darurat dan mengimbau para PMI untuk tetap berada di dalam rumah majikan, demi alasan keamanan.
Menurut Bambang, kondisi yang paling dirasakan para pekerja migran saat ini adalah tekanan emosional. Banyak di antara mereka merasa cemas, karena tidak bisa pulang saat Lebaran.
“Yang paling terlihat adalah kondisi psikologis mereka. Ada rasa galau dan stres karena rencana pulang Lebaran harus tertunda,” katanya.
Ia menambahkan, salah satu PMI bahkan harus kembali bekerja di luar negeri setelah sebelumnya meninggalkan anak yang baru dilahirkan di Indonesia.
Kondisi tersebut, kata Bambang, menjadi gambaran beratnya perjuangan para pekerja migran yang bekerja di luar negeri demi menghidupi keluarganya.
Hingga saat ini, kemungkinan evakuasi atau pemulangan PMI dari wilayah tersebut juga masih belum dapat dilakukan. Selain faktor keamanan, kondisi infrastruktur bandara dinilai belum memungkinkan untuk operasional penerbangan secara normal.
Migrant Care Jember berharap pemerintah daerah turut melakukan langkah mitigasi dengan memperbarui data pekerja migran serta memastikan perlindungan bagi mereka.
“Dalam situasi darurat seperti ini, prinsip non-diskriminasi harus dikedepankan. Baik pekerja migran yang berangkat secara prosedural maupun tidak, semuanya perlu dilindungi,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga mengimbau masyarakat yang memiliki anggota keluarga bekerja di Timur Tengah untuk terus memantau informasi resmi dari pemerintah, serta menjalin komunikasi dengan lembaga terkait apabila membutuhkan bantuan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....