Warga Keluhkan Kondisi Memprihatinkan Gedung SD Kelabang II

  • 06 Mar 2026 08:34 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Bondowoso - Kondisi bangunan SD Negeri Kelabang II di Dusun Sumber Biru, Desa Kelabang, Kecamatan Tegalampel, Kabupaten Bondowoso, kian memprihatinkan. Sejumlah ruang kelas yang rusak parah tetap digunakan untuk kegiatan belajar mengajar siswa kelas 1 hingga kelas 6, meski sebagian atap dan plafon telah ambrol dan bangunan disangga menggunakan bambu.

Ruang kelas yang sudah rapuh itu tetap menjadi tempat belajar bagi para siswa karena tidak ada ruang alternatif lain. Di beberapa bagian, plafon terlihat runtuh dan kayu penyangga atap mulai lapuk.

Salah satu guru di sekolah tersebut, Mula Wiji Lestari, mengatakan kerusakan bangunan sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Pihak sekolah telah melaporkan kondisi tersebut kepada instansi terkait, namun hingga kini belum ada kepastian kapan perbaikan akan dilakukan.

“Kami khawatir sewaktu-waktu bangunan ini roboh saat anak-anak sedang belajar,” ujar Mula Wiji Lestari, Jumat (6/3/2026).

Kekhawatiran para guru semakin meningkat ketika musim hujan tiba. Air hujan kerap masuk melalui bagian atap yang rusak, sementara plafon yang telah ambruk membuat kondisi kelas semakin tidak aman.

“Sudah banyak plafon yang ambruk, bahkan kayunya sudah terlihat lapuk. Itu yang membuat kami was-was,” tuturnya.

Meski demikian, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung setiap hari. Para guru tidak memiliki pilihan lain karena sekolah tersebut menjadi satu-satunya tempat belajar bagi anak-anak di dusun tersebut.

“Namun kami tetap mengajar karena ini satu-satunya tempat belajar anak-anak di sini,” tambahnya.

SD Negeri Kelabang II yang berstatus sekolah filial itu dibangun pada 2005 dan hingga kini belum pernah mendapatkan renovasi. Usia bangunan yang telah mencapai lebih dari dua dekade membuat kondisi fisiknya semakin menurun.

“Usia gedung sekolah ini sudah 21 tahun, jadi wajar kalau ada kerusakan. Karena itu perlu perbaikan,” ungkapnya.

Saat ini terdapat 14 siswa yang belajar di sekolah tersebut, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Sekolah ini dibentuk sebagai kelas jauh untuk menjangkau anak-anak di Dusun Sumber Biru agar tetap bisa mengakses pendidikan dasar.

Jika harus bersekolah ke SD induk, para siswa harus menempuh jarak sekitar 2 hingga 3 kilometer. Sementara jika menuju SD Mandiro 1, jaraknya bahkan lebih jauh.

“Kalau harus ke SD induk jaraknya sekitar 2 sampai 3 kilometer. Ke SD Mandiro 1 lebih jauh lagi,” katanya.

Salah satu orang tua siswa, Mosleh, mengaku cemas melihat kondisi bangunan sekolah yang semakin rapuh. Meski begitu, anak-anak tetap berangkat ke sekolah karena tidak ada pilihan lain.

“Kami sebagai orang tua tentu khawatir melihat kondisi kelas seperti itu. Tapi anak-anak tetap harus sekolah,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah segera memberikan perhatian terhadap kondisi sekolah tersebut agar anak-anak dapat belajar dengan aman dan nyaman.

“Kami berharap pemerintah segera memperbaiki agar mereka bisa belajar dengan aman dan nyaman,” ungkap Mosleh.

Masyarakat setempat berharap pemerintah daerah maupun dinas terkait segera mengambil langkah konkret sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Mereka khawatir, jika kondisi ini terus dibiarkan, keselamatan siswa dapat terancam dan akses pendidikan bagi anak-anak di Dusun Sumber Biru semakin terabaikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....