Eskalasi Konflik Global, Sektor Energi dan Rupiah Paling Rentan
- 04 Mar 2026 22:05 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dinilai berpotensi memberi tekanan terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Dampak terbesar diperkirakan berasal dari sektor energi, khususnya minyak dunia.
Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Jember, Nurul Qomariah, mengatakan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia. Jika konflik mengganggu distribusi, maka harga minyak global berpotensi naik.
“Kalau pasokan minyak terganggu, harga minyak dunia bisa meningkat. Dampaknya ke dalam negeri, harga BBM berpotensi ikut terdorong,” ujarnya, saat Halo RRI, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, kenaikan harga bahan bakar akan memicu efek berantai. Biaya transportasi meningkat, distribusi barang menjadi lebih mahal, dan pada akhirnya harga kebutuhan pokok ikut terkerek.
Kondisi tersebut dapat memicu inflasi. Kenaikan harga barang membuat daya beli masyarakat menurun. Dengan pendapatan yang sama, jumlah barang yang bisa dibeli menjadi lebih sedikit.
Meski demikian, ia menilai dampak terhadap Indonesia bersifat tidak langsung. Namun risiko tetap ada, terutama apabila lonjakan harga energi berlangsung lama.
Selain menekan masyarakat, kenaikan harga minyak juga berpengaruh pada beban subsidi pemerintah. Jika harga BBM dalam negeri naik, maka kebutuhan subsidi meningkat dan berpotensi menekan APBN.
“Energi menjadi indikator paling rentan, karena hampir seluruh aktivitas ekonomi bergantung pada BBM,” katanya.
Ia menambahkan, dalam satu hingga dua bulan terakhir Indonesia sebenarnya telah menghadapi tekanan inflasi dari kenaikan harga bahan pokok, seperti cabai dan daging ayam.
Harga ayam bahkan sempat menyentuh Rp40 ribu per kilogram menjelang puasa. Kenaikan harga cabai, menurutnya, cukup berdampak pada pelaku UMKM makanan.
Beberapa pelaku usaha mencoba menyiasati dengan menyimpan cabai saat harga murah, untuk dikeringkan sebagai stok.
“Dampak konflik memang belum terasa langsung. Tapi yang perlu diwaspadai adalah efek lanjutan pada BBM dan energi,” ujarnya.
Selain inflasi, nilai tukar rupiah juga berpotensi melemah, kalau ketidakpastian global meningkat. Pelemahan rupiah bisa berdampak pada pasar modal serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Di sektor investasi, perusahaan yang bergerak di bidang energi dinilai paling rentan. Ketidakpastian global cenderung membuat investor menahan ekspansi.
Untuk meredam dampak ekonomi, Nurul mendorong pemerintah memperkuat diversifikasi energi agar tidak terlalu bergantung pada BBM.
Indonesia dinilai memiliki potensi energi alternatif berbasis sumber daya alam, termasuk bahan bakar nabati. Selain itu, sektor ekspor perlu dikelola optimal sebagai penopang ekonomi di tengah tekanan global.
Meski dihadapkan pada tantangan, ia menilai Indonesia memiliki ketahanan menghadapi krisis, seperti yang pernah dialami pada 1998.
Bagi pelaku usaha lokal, kondisi saat ini diakui cukup berat. Harga bahan baku naik sementara daya beli masyarakat terbatas, sehingga margin keuntungan menipis.
Ia juga mengimbau masyarakat mulai memanfaatkan potensi lokal, termasuk pertanian.
Diversifikasi pangan, seperti memanfaatkan umbi-umbian atau sumber karbohidrat alternatif, dinilai penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga.
“Dengan kemandirian pangan dan diversifikasi energi, masyarakat akan lebih siap menghadapi dampak krisis global,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....