Perajin Kue Keranjang di Jember Kebanjiran Pesanan jelang Imlek 2577
- 16 Feb 2026 08:32 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Menjelang Tahun Baru Imlek 2577, dapur sederhana milik Feny Suryaningsih di kawasan Tegal Besar, Jember, tak pernah sepi. Uap panas dari kukusan mengepul hampir sepanjang hari.
Di sanalah, ibu rumah tangga itu menyiapkan ratusan kue keranjang pesanan pelanggan dari berbagai kota. Sudah tujuh tahun Feny menekuni usaha kue khas Imlek tersebut.
Awalnya, ia hanyalah karyawan swasta. Setelah memutuskan berhenti bekerja, ia mencoba membuat kue keranjang untuk konsumsi sendiri saat perayaan Imlek. Kebetulan, ia juga merayakan Imlek.
“Awalnya coba-coba. Ternyata banyak yang suka, akhirnya mulai dijual,” ujarnya kepada RRI Jember.
Kue keranjang buatannya hanya menggunakan dua bahan utama, yaitu tepung ketan dan gula yang dikaramelkan. Meski terlihat sederhana, prosesnya cukup menguras tenaga.
Adonan harus diolah hingga benar-benar halus. Setelah itu, adonan dikukus selama enam hingga tujuh jam. Jika dihitung sejak proses pengadukan hingga matang, waktu yang dibutuhkan bisa lebih dari tujuh jam.
Dalam sekali produksi, Feny mampu membuat sekitar 100 kue keranjang. Harga jualnya Rp 12.000 untuk kue ukuran kecil dan Rp 23.000 untuk yang ukuran besar.
Tahun ini, lonjakan pesanan terasa signifikan. Hingga pertengahan Februari, ia sudah memproduksi sekitar 350 kue keranjang dan masih akan terus menambah produksi hingga mendekati hari perayaan.
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, pesanan bisa mencapai 600 kue. Namun tahun ini, Feny menargetkan hampir 1.000 kue, termasuk pesanan sekitar 300 kue untuk acara Imlek bersama.
Untuk memenuhi target tersebut, ia menghabiskan hampir satu kuintal tepung ketan. Meski harga bahan baku mengalami kenaikan, Feny memilih tidak menaikkan harga jual agar tetap terjangkau pelanggan.
Dengan target produksi seribu buah, omzet yang bisa diraih mencapai sekitar Rp10 juta. Angka yang cukup berarti untuk membantu perekonomian keluarga.
Dari Vihara ke Luar Kota
Awalnya, pemasaran hanya terbatas di kalangan vihara. Namun kini, pesanan datang dari berbagai daerah seperti Banyuwangi, Surabaya, Lumajang, Bondowoso, hingga Situbondo.
“Kalau kue keranjang itu bisa dibuat berbagai varian, seperti rasa pandan, cokelat, vanila, dan lainnya. Tapi pelanggan tetap lebih banyak memilih rasa original,” kata dia.
Bagi Feny, usaha ini bukan sekadar mencari keuntungan. Ia berharap tradisi ini tidak berhenti pada generasinya. Ia ingin tradisi kue keranjang tetap lestari di tangan generasi muda.
“Kalau bukan kita yang meneruskan, nanti tradisinya bisa hilang. Anak-anak sekarang harus tahu maknanya apa,” ujarnya.
Kue keranjang sendiri melambangkan harapan akan rezeki yang manis dan hubungan yang lengket sepanjang tahun, sebagaimana teksturnya yang legit dan melekat.
Di luar musim Imlek, Feny tetap menerima pesanan aneka kue seperti sifon, cake puding, dan kue kacang. Namun kue keranjang tetap menjadi ikon usahanya.
Menurut Feny, lonjakan pesanan bukan sekadar tambahan penghasilan. Tapi juga tanda bahwa tradisi tetap hidup, manis dan lengket, seperti harapan yang ia kukus berjam-jam di dapurnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....