Bedah Buku ‘Babad Alas’, Refleksi Kepemimpinan Daerah
- 13 Feb 2026 22:44 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Bupati Jember, Muhammad Fawait, menghadiri bedah buku Babad Alas, yang menghadirkan Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, sebagai pembicara sekaligus penulis.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jumat (13/2/2026), menjadi ruang diskusi tentang dinamika kepemimpinan dan tantangan pemerintahan daerah. Dalam pemaparannya, Bima Arya menilai proses kampanye politik tidak lebih berat dibandingkan saat menjalankan pemerintahan.
Menurutnya, tantangan justru muncul setelah menjabat, ketika harus berhadapan dengan birokrasi, beragam kepentingan, serta dinamika sosial yang tidak selalu terlihat di permukaan.
“Beratnya kampanye itu tidak seujung kuku dibandingkan menjalankan pemerintahan. Saat kampanye, lawan terlihat jelas. Tetapi ketika memimpin pemerintahan, tidak selalu jelas siapa kawan dan siapa yang berseberangan,” kata dia.
Ia berbagi pengalaman saat memimpin Kota Bogor, termasuk menghadapi polemik kebijakan publik, kritik mahasiswa terkait penguatan KPK, hingga persoalan rumah ibadah dan investasi hiburan.
Bima menegaskan, seorang pemimpin harus berpijak pada nilai moral dan kepentingan masyarakat, bukan sekadar pertimbangan politik jangka pendek.
Masa awal kepemimpinannya sebagai periode penuh tekanan. Ia mengaku harus berhadapan dengan kepentingan birokrasi, kelompok kepentingan, hingga dinamika sosial yang kerap tidak tercantum dalam teori politik formal.
“Pengalaman itu mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak cukup hanya mengandalkan keberanian, melainkan harus berlandaskan nilai, strategi, serta konsistensi antara pikiran, ucapan, dan tindakan,” kata dia.
Bima juga menyebut sejumlah tokoh yang memengaruhi cara pandangnya, seperti Arief Budiman, Soe Hok Gie, dan Nurcholish Madjid. Nilai inklusivitas, keadilan sosial, serta keberpihakan pada kelompok rentan, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam merumuskan kebijakan.
Menanggapi paparan tersebut, Bupati Jember Muhammad Fawait menyatakan pengalaman Bima Arya menjadi refleksi bagi kepemimpinannya di Jember.
Ia mengakui, saat mulai menjabat, Jember menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kemiskinan ekstrem, stunting, hingga isu kesehatan ibu dan anak.
Pemkab Jember kemudian memprioritaskan pembenahan layanan publik, termasuk memperluas cakupan jaminan kesehatan daerah hingga mencapai Universal Health Coverage.
“Selain itu, pelayanan administrasi kependudukan diperluas melalui kecamatan agar lebih mudah diakses masyarakat desa,” kata dia.
Dalam forum tersebut, Gus Fawait menegaskan pentingnya peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai instrumen kemandirian fiskal.
Ia menilai bahwa BUMD tidak semata berorientasi pada keuntungan, melainkan menjadi instrumen strategis untuk mengisi sektor ekonomi yang tidak dijangkau swasta.
Fawait juga melaporkan capaian peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Jember yang mengalami kenaikan signifikan dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
“Peningkatan tersebut menjadi indikator awal penguatan kapasitas fiskal daerah dalam mendukung pembangunan berkelanjutan,” kata dia.
Kegiatan bedah buku ini menjadi momentum refleksi bersama antara pengalaman kepemimpinan nasional dan dinamika pemerintahan daerah.
Korelasi pengalaman Bima Arya dan perjalanan kepemimpinan Muhammad Fawait menunjukkan bahwa kepemimpinan daerah menuntut keberanian, keteguhan nilai, serta kemampuan merumuskan strategi pembangunan yang berpihak kepada masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....