Pengolahan Sampah Sirkular Jadi Prioritas Banyuwangi

  • 08 Feb 2026 20:40 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID Banyuwangi – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menjadikan pengolahan sampah sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan sistem pengolahan sampah sirkular yang ramah lingkungan, salah satunya melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) Balak, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi.

TPS3R Balak berdiri di atas lahan seluas 1,5 hektar dengan kapasitas pengolahan mencapai 84 ton sampah per hari. Fasilitas ini menjadi salah satu TPS3R terbesar di Banyuwangi.

Pengolahan sampah di TPS3R Balak dilakukan secara modern dengan dukungan teknologi, mulai dari pemilahan, pengolahan sampah organik dan anorganik, hingga pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau Refuse Derived Fuel (RDF).

“Pengelolaan sampah di TPS3R Balak dirancang untuk memastikan sampah rumah tangga dapat ditangani secara efektif, mulai dari sumber hingga pemrosesan akhir,” ucap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Banyuwangi, Dwi Handayani, Minggu, 8 Februari 2025.

Dwi Handayani menjelaskan, pengelolaan sampah dilakukan dengan sistem teknologi untuk meminimalkan residu serta menekan timbulnya bau. Setiap hari, petugas pengangkut sampah berkeliling ke permukiman warga untuk mengambil sampah dari rumah ke rumah.

Saat ini, TPS3R Balak melayani pengolahan sampah dari 64 desa yang tersebar di 10 kecamatan di Banyuwangi.

“Semua sampah yang masuk ke TPS3R akan dipilah menggunakan mesin konveyor berdasarkan kategori organik dan anorganik. Saat ini terdapat 120 pekerja di TPS3R Balak yang seluruhnya berasal dari warga sekitar,” tutur Dwi Handayani.

Setelah melalui proses pemilahan, sampah anorganik bernilai ekonomis seperti botol dan gelas plastik serta kertas dan dupleks dipres dan dikirim ke pabrik daur ulang atau industri pengolahan.

Sementara itu, sampah anorganik yang tidak memiliki nilai ekonomis, seperti bungkus sachet dan plastik tertentu, diolah menjadi RDF sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan.

“Sudah puluhan ton RDF dari TPS3R Balak yang dikirim ke Gresik untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar industri semen,” ungkap Dwi Handayani.

Adapun sampah organik diolah menjadi kompos dengan metode window composting. Lindi atau air hasil pengolahan sampah organik diolah menggunakan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) agar tidak mencemari lingkungan.

“Semua sampah di TPS3R dikelola tanpa menyisakan residu. Kalaupun ada residu, langsung dibawa ke TPA dan tidak menginap di TPS3R,” terang Dwi Handayani.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga berencana membangun TPS3R baru di kawasan Sobo, Kecamatan Banyuwangi. TPS3R Sobo akan dibangun di atas lahan seluas 1,8 hektar dengan kapasitas pengolahan 45 ton sampah per hari.

“Secara kapasitas memang lebih kecil karena hanya mengelola sampah di Kecamatan Banyuwangi saja, meskipun luas lahannya lebih besar,” jelas Dwi Handayani.

Selain pembangunan TPS3R, pemerintah daerah juga akan melengkapi fasilitas pendukung berupa pembangunan drainase serta perbaikan infrastruktur jalan di sekitar lokasi.

Manfaat keberadaan TPS3R Balak turut dirasakan warga sekitar. Salah satu warga Desa Balak, Kikit, mengaku kini masyarakat mulai terbiasa memilah sampah dari rumah, berbeda dengan sebelumnya yang masih membakar sampah.

“Iurannya terjangkau, Rp 10 ribu per bulan. Soal bau juga jarang sekali. Kalau memang ada, tinggal lapor ke petugas dan langsung ditangani. Pengolahannya bersih dan rapi,” ujar Kikit.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....