Gigitan Ular Masih Mematikan di India

  • 03 Feb 2026 07:22 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Mumbai: Krisis gigitan ular masih menjadi masalah kesehatan serius di India dan menewaskan puluhan ribu orang setiap tahunnya. BBC Health, dalam laporan terbit 2 Februari 2026, menyebut sekitar 50.000 warga India meninggal akibat gigitan ular setiap tahun, atau hampir setengah dari total kematian akibat gigitan ular di seluruh dunia.

Salah satu korban selamat adalah Devendra, seorang petani, yang kakinya harus diamputasi akibat terlambat mendapat perawatan medis. Ia mengaku baru pergi ke rumah sakit empat hari setelah digigit ular saat memetik daun murbei. Kisah Devendra ditampilkan dalam film pendek yang dirilis Global Snakebite Taskforce (GST).

Menurut data pemerintah federal India yang dikutip BBC Health, jumlah korban jiwa akibat gigitan ular diperkirakan jauh lebih besar. Sebuah studi tahun 2020 bahkan menyebut bahwa antara 2000 hingga 2019, India kemungkinan mencatat hingga 1,2 juta kematian, dengan rata-rata 58.000 kematian per tahun.

Laporan terbaru GST menemukan bahwa 99% tenaga kesehatan di India menghadapi kendala dalam pemberian antibisa (antivenom). Survei terhadap 904 tenaga medis di India, Brasil, Indonesia, dan Nigeria menunjukkan persoalan serupa, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kurangnya pasokan antibisa, hingga minimnya pelatihan.

Hampir setengah tenaga medis yang disurvei menyatakan keterlambatan penanganan sering berujung pada komplikasi berat, seperti amputasi, operasi besar, atau gangguan mobilitas permanen pada pasien.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2017 telah menetapkan gigitan ular sebagai penyakit tropis terabaikan dengan prioritas tertinggi. WHO memperkirakan sekitar 5,4 juta orang digigit ular setiap tahun di dunia, dengan lebih dari 100.000 kematian, dan sebagian besar korbannya berasal dari komunitas miskin di pedesaan negara berkembang.

Di India, konsentrasi tertinggi kasus gigitan ular terjadi di wilayah tengah dan timur. Anggota GST, Dr Yogesh Jain, mengatakan petani dan komunitas adat miskin menjadi kelompok paling rentan. Pada 2024, pemerintah India meluncurkan National Action Plan for Prevention and Control of Snakebite Envenoming (NAPSE) yang menargetkan penurunan angka kematian hingga 50% pada 2030. Namun, pelaksanaannya dinilai belum merata.

Dr Jain menyoroti keterlambatan penanganan sebagai faktor utama tingginya angka kematian. Akses jalan yang buruk, jauhnya fasilitas kesehatan, serta keterbatasan ambulans membuat banyak korban terlambat mendapat antibisa. Selain itu, sebagian masyarakat masih mengandalkan pengobatan tradisional atau dukun, dan baru ke rumah sakit saat kondisi memburuk.

Masalah lain adalah keterbatasan jenis antibisa. Saat ini, India hanya memiliki antibisa untuk empat jenis ular utama, sementara puluhan spesies berbisa lain belum memiliki penangkal khusus. Penelitian All India Institute of Medical Sciences (AIIMS) di Jodhpur menunjukkan bahwa dua pertiga pasien gigitan ular tidak merespons optimal terhadap antibisa yang tersedia.

Peneliti dan aktivis kesehatan mendesak pemerintah daerah mengikuti langkah negara bagian Karnataka yang menjadikan gigitan ular sebagai penyakit wajib lapor. Menurut Dr Jain, kematian akibat gigitan ular bisa dicegah jika ada kemauan politik yang kuat.

“Gigitan ular adalah masalah orang miskin. Padahal, mereka berhak mendapatkan sistem kesehatan yang layak,” tegasnya, seperti dikutip BBC Health.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....