Budaya Jawa Di Tlatah Eks-Karesidenan Besuki Dan Lumajang
- 31 Jan 2026 21:59 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Budaya Jawa tidak hadir dalam satu wajah yang tunggal, melainkan berkembang sesuai dengan konteks sejarah, geografis, dan sosial masyarakat pendukungnya. Wilayah eks-Karesidenan Besuki yang meliputi Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, dan Jember, serta wilayah Lumajang, merupakan kawasan strategis di ujung timur Pulau Jawa yang sejak masa lampau menjadi ruang pertemuan berbagai kebudayaan : Jawa Mataraman, Madura, Bali, Osing, serta unsur-unsur lokal lainnya. Proses sejarah tersebut melahirkan corak Budaya Jawa yang khas, adaptif, dan kontekstual.
Program acara Ruang Budaya RRI Jember menjadi media yang tepat untuk mengangkat, mendiskusikan, dan mendiseminasikan kekayaan Budaya Jawa di wilayah ini agar dapat dipahami, diapresiasi, dan diwariskan kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda. Hadir sebagai narasumber : Ki R. Budi Siswanto Wongsodjono, Budayawan dan pemerhati sejarah budaya Jawa di wilayah tapal kuda sekaligus pendiri Yayasan Puri Asih Mustika Jawa (YPAMJ) dan Ki Bagus Wijaya, pelaku budaya yang menekuni tradisi lokal dan kearifan masyarakat sekaligus pinisepuh Paguyuban Wahyu Purbo Sejati (WAPURJATI).

Ki Budi Siswanto menjelaskan, "Kalau kita bicara budaya Jawa di tlatah Besuki dan Lumajang, kita sedang bicara Jawa yang tidak berdiri sendiri, tetapi Jawa yang tumbuh di wilayah pertemuan. Wilayah ini dulunya berada dalam pengaruh Mataram, terutama sejak era Pakubuwana II untuk Besuki, dan Danurejo II untuk Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi. Tapi dalam perjalanannya, Jawa di sini bertemu dengan budaya Madura, Bali, Osing, dan masyarakat pendatang lainnya. Maka yang lahir bukan Jawa kraton murni, tapi Jawa yang membumi dan kontekstual. Budaya Jawa di Besuki dan Lumajang bukan peninggalan masa lalu, tapi cara hidup hari ini yang perlu kita rawat bersama." tegasnya, 29 Januari 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....