Sosok Hariyadi, Putra Petani Raih Predikat Wisudawan Terbaik

  • 29 Jan 2026 13:32 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Langkah Hariyadi terasa lebih pelan dibanding derap wisudawan lain yang memenuhi Gedung Kuliah Terpadu UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember, . Namun justru dari langkah yang tenang itulah terpancar keteguhan seorang anak petani yang berhasil menembus batas-batas keterbatasan. Hari itu, namanya dipanggil sebagai Wisudawan Terbaik pada Wisuda Program Sarjana ke-74 dan Program Magister ke-55.

Hariyadi membagikan pesan reflektif kepada sesama mahasiswa. Mengutip Confucius, Hariyadi mengingatkan bahwa perjalanan tak selalu harus cepat, asalkan tidak berhenti.

“Terkadang peristiwa-peristiwa yang kita benci justru mengantarkan kita pada titik yang kita impikan. It does not matter how slowly you go as long as you do not stop,” tutur Hariyadi Kamis, 29 Januari 2026.

Hariyadi, mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), menuntaskan studinya dengan IPK 3,88. Sebuah capaian akademik yang tidak datang dari kemewahan fasilitas, melainkan dari kerja keras yang panjang dan konsisten.

Pemuda asal Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember ini tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Solikin, mengolah tanah sebagai petani, sementara ibunya, Misnayah, mengais rezeki sebagai pedagang. Dari rumah sederhana itulah Hariyadi belajar arti ketekunan dan tanggung jawab sejak dini.

Kesungguhannya menempuh pendidikan tinggi sempat mendapat angin segar pada 2021, ketika ia dinyatakan sebagai penerima Beasiswa Pemerintah Kabupaten Jember Jalur Kompetensi. Bantuan tersebut bukan hanya menopang biaya kuliah, tetapi juga menjadi suntikan moral bahwa usahanya mendapat kepercayaan.

Di tengah kesibukan akademik, Hariyadi tidak memilih jalan aman sebagai mahasiswa “pulang–kuliah–pulang”. Ia justru aktif mengasah diri di berbagai organisasi. Pernah menjabat Ketua Umum IMAQOD (Ikatan Mahasiswa Al-Qodiri) periode 2022–2023, aktif di PMII, Unit Bela Diri Mahasiswa (UBM), hingga dipercaya menjadi pelatih pencak silat PSHT.

Prestasi non-akademiknya pun berderet. Ia pernah menjuarai lomba baca kitab kuning dan cerdas cermat antarpondok pesantren se-Kabupaten Jember, menjadi juara umum Madrasah Diniyah, hingga meraih juara tiga catur tingkat kabupaten. Bagi Hariyadi, prestasi adalah hasil dari keberanian mencoba dan konsistensi berproses.

Kini, selepas wisuda, Hariyadi tak menunggu lama untuk mengabdikan ilmunya. Ia telah mengajar di sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTs). Mengajar, baginya, bukan sekadar pekerjaan awal, melainkan bentuk tanggung jawab moral setelah menyelesaikan studi.

Rencana masa depannya pun membumi. Selain melanjutkan dunia pendidikan, ia berencana merintis usaha lele marinasi sebagai ikhtiar kemandirian ekonomi, sembari mempersiapkan diri mengikuti seleksi CPNS.

Di balik semua capaian itu, Hariyadi memegang prinsip hidup sederhana namun kuat: “If you think you can, you can.” Prinsip yang membantunya bertahan di masa-masa sulit selama kuliah.

Kisah Hariyadi menjadi cermin bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang kecerdasan intelektual, tetapi juga tentang daya juang, karakter, dan keberanian memadukan akademik, organisasi, serta pengabdian. Dari Umbulsari, ia membuktikan bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari ladang yang sederhana.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....