Sejarawan: Peringatan Holocaust Jadi Edukasi Kemanusiaan Universal
- 28 Jan 2026 07:59 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember, Dr. Ratna Endang W., S.S., M.A., menegaskan bahwa peringatan Hari Holocaust Internasional yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus dipahami dalam kerangka kemanusiaan universal, bukan dilihat secara sempit sebagai persoalan agama, ras, atau politik kontemporer.
Menurut Ratna Endang, Indonesia berada pada posisi yang unik karena di satu sisi merupakan anggota aktif PBB dan bagian dari peradaban dunia, sementara di sisi lain merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Posisi tersebut, kata dia, menuntut Indonesia untuk melihat peringatan Holocaust dari sudut pandang nilai kemanusiaan global.
“Holocaust adalah peristiwa genosida, pembunuhan massal yang dilakukan rezim Nazi Jerman terhadap orang-orang Yahudi. Peringatan ini bukan soal Israel atau politik hari ini, tetapi tentang tragedi kemanusiaan yang tidak boleh terulang,” ujar Ratna Selasa, 27 Januati 2026.
Ratna Endang menjelaskan, tanggal 27 Januari diperingati sebagai Hari Holocaust Internasional karena bertepatan dengan pembebasan kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau oleh tentara Soviet. Kamp tersebut menjadi simbol kebiadaban genosida yang dilandasi kebencian rasial, terutama oleh ideologi Nazi yang menganggap ras Arya sebagai ras tertinggi.
“Ide tentang superioritas ras inilah yang berbahaya. Ketika satu kelompok merasa paling tinggi dan berhak menyingkirkan yang lain, maka genosida menjadi mungkin,” tegasnya.
Ia menambahkan, peringatan Holocaust oleh PBB bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dunia agar belajar dari sejarah, sehingga tragedi serupa tidak kembali terjadi. Menurutnya, berbagai konflik kemanusiaan di Kamboja, Rwanda, hingga Bosnia menunjukkan bahwa pola kekerasan berbasis identitas masih terus berulang.
“Polanya sama: yang kuat menindas yang lemah, merasa paling benar, paling unggul. Inilah yang ingin dicegah oleh PBB melalui peringatan Holocaust,” jelasnya.
Dalam perspektif agama, khususnya Islam, Ratna Endang menilai nilai-nilai kemanusiaan tersebut sangat sejalan. Manusia diciptakan dalam keberagaman sebagai fitrah, baik dari sisi geografis maupun budaya, sehingga tidak ada dasar untuk melakukan diskriminasi.
“Dalam Islam, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, bukan untuk saling merendahkan. Tidak ada konsep kasta atau pembedaan derajat kemanusiaan,” ujarnya.
Ia membandingkan hal tersebut dengan sistem sosial sebelum Islam berkembang luas di Nusantara yang mengenal pembagian kasta. Menurutnya, Islam justru menempatkan seluruh aktivitas manusia—termasuk urusan dunia seperti perdagangan sebagai sesuatu yang bernilai, tanpa hierarki sosial yang kaku.
Lebih jauh, Ratna Endang mengingatkan bahwa Indonesia sebagai negara multikultural juga memiliki potensi konflik berbasis identitas jika keberagaman tidak dikelola dengan kesadaran sejarah dan pendidikan kemanusiaan.
“Indonesia terdiri dari banyak suku bangsa dengan budaya dan identitas yang kuat. Kalau tidak ada kesadaran bahwa semua setara sebagai manusia dan warga negara, konflik seperti yang terjadi di negara lain bisa saja terulang,” ujar Ratna.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....