Cuaca Ekstrem Berdampak ke Pertanian Jember

  • 20 Jan 2026 21:40 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Curah hujan tinggi yang terjadi hampir sepanjang hari di Kabupaten Jember dalam beberapa waktu terakhir, mulai berdampak serius pada sektor pertanian. Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko gagal panen, terutama di wilayah yang memiliki sistem pembuangan air terbatas. Hal itu disampaikan Ketua Umum Asosiasi Petani Pangan Indonesia (APPI), Jumantoro.

Intensitas hujan yang tinggi sejak pagi hingga malam menyebabkan banyak lahan pertanian tergenang air. Dampak terparah dirasakan di wilayah Jember Selatan serta daerah dataran rendah lainnya.

“Ini dampaknya sangat luar biasa kepada sektor pertanian. Ini mengakibatkan banyak tanaman yang terendam dan mengancam terjadinya gagal panen,” ujarnya, saat on air Halo RRI, Senin (19/1/2026).

Genangan air yang berlangsung lama, kata dia, dapat menyebabkan tanaman padi membusuk jika tidak segera diatasi. Tanaman hortikultura seperti cabai dan sayuran, juga berisiko rusak akibat kelembapan yang terlalu tinggi.

Selain genangan, kondisi cuaca ekstrem juga memicu meningkatnya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti wereng dan jamur.

Tingginya kelembapan membuat petani harus melakukan perlakuan ekstra, termasuk penyemprotan fungisida serta pengelolaan irigasi agar air tidak mengendap terlalu lama di lahan.

“Tanaman tidak butuh banyak air, tapi cukup air. Kalau hujan terus dan air tidak bisa keluar, petani bukan untung tapi buntung karena biaya produksi tinggi,” kata Jumantoro.

Dampak lain yang turut dirasakan petani adalah anjloknya harga jagung. Di sejumlah wilayah Jember Selatan dan Jember Timur yang mulai memasuki masa panen, harga jagung gelondongan turun dari Rp3.000 per kilogram menjadi Rp2.300-Rp2.400.

Penurunan harga tersebut disebut terjadi karena kualitas jagung dianggap menurun akibat curah hujan tinggi. Kondisi ini membuat pedagang membeli jagung di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sehingga semakin memberatkan petani.

“Di lapangan, alasan kualitas karena hujan tinggi dijadikan dasar membeli di bawah HPP. Di sinilah kami mempertanyakan kehadiran pemerintah saat harga komoditas jatuh,” tegasnya.

Tak hanya jagung, harga gabah padi juga dilaporkan berada di bawah HPP Rp6.500 per kilogram, dengan harga jual di kisaran Rp6.000 hingga Rp6.300. Tingginya kelembapan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kualitas hasil panen.

APPI mengimbau petani di wilayah rawan genangan untuk meningkatkan antisipasi, terutama bagi yang baru memasuki masa tanam.

Penggunaan pupuk nitrogen (N) disarankan tidak berlebihan, serta penyemprotan fungisida dilakukan secara tepat dan terukur.

“Kami minta petani berkoordinasi dengan penyuluh setempat agar penanganan cepat dan tepat. Kalau ada potensi wabah, harus ditangani bersama,” kata dia.

Ia berharap pemerintah daerah dan pusat hadir memberikan perlindungan terhadap komoditas pertanian, agar petani tidak terus merugi akibat dampak cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....