Tradisi Asatan, Dari Gelontorkan Sedimentasi Sampai Berburu Ikan

  • 24 Des 2025 17:01 WIB
  •  Jember

KBRN, Bondowoso: Ribuan orang dari berbagai wilayah meramaikan tradisi asatan di Bendungn Sampean Baru, Desa/Kecamatan Tapen, Bondowoso, Jawa Timur, Rabu (24/12/2025). Tradisi tahunan ini kerap diserbu warga yang berburu ikan mabuk akibat bendungan yang disurutkan untuk pengurasan lumpur atau Flushing.

Mereka datang sejak pukul 06.00 WIB. Jalanan meuju lokasi macet luar biasa tak jadi halangan mereka berburu ikan di bendungan atau pun sepanjang aliran sungai Sampean Baru.

Wahyu Adi Nugraha, Kepala Unit Pengelola Bendungam 1 BBWS Brantas yang mengelola Bendungan Sampean Baru dan Bajul Mati, mengatakan asatan itu menggelontor sedimentasi di tampungan waduk Sampean Baru.

Fungsinya untuk memperpanjang umur layanan waduk. Selain itu, untuk mengoptimalkan layanan waduk sebagai saluran irigasi atau pun pembangkit listrik tenaga Mikrohidro.

"Flushing ini sistemnya buka tutup pintu untuk menggelontorkan sedimentasi," jelasnya.

Ia meyebut Flushing dilakukan selama 8 hari hingga 31 Desember 2025 pada pukul 18.00 WIB. Target volume sedimentasi yang di-flushing yakni sekitar 300.000 meter².

Karena Bendungan Sampean Baru ini merupakan saluean irigas untuk puluhan ribu hektar sawah. Maka daru itu, kata Wahyu, Flushing dilakulan dengan memperhatikan masa tanam.

"Jadi kita koordinasi dengan seluruh Hippa, dan dinas terkait," ujarnya.

Adapun ikan yang ada di waduk Bendungan Sampean Baru. Kata Wahyu, beberapa kali memang dari Dinas Peternakan menebar benih ikan. Seperti Ikan Tawes, Nila, Mujaer. Tapi, disebutnya ada juga ikan alami dari sungai yang hidup di waduk.

"Kemarin yang disebarkan Nila," ungkapnya.

Dia menyebut pelaksanaan asatan tahun ini dilaksanakan secara meriah dengan sajian festival asatan. Ada berbagai hiburan tarian tradisional, dan bazar UMKM yang diikuti hampir 81an pelaku UMKM.

Ini dilakukan karena antusias warga di setiap asatan sangat besar. Sehingga, pihaknya juga ingin sekalian memberikam edukasi melalui Festival Asatan.

Edukasinya agar masyarakat melestarikan dan lebih peduli sumber daya air.

Bendungan Sampean Baru Dibangun Tahun 1930 oleh Hindia Belanda

Sebelum dibangun, sebenarnya Kali Sampean ini telah dimanfaatkan untuk mengairi daerah irigasi Sampean Lama dengan areal luas lahan 10.260 hektar di Kabupaten Bondowoso.

Karena itulah, Pemerintah Hindia Belanda merencanakan pembangunan Bendungan pada tahun 1930. Namun tak kunjung terealisasi. Pada masa Penjajahan Jepang proyek ini sempat dilaksanakan. Namun, karena disamping kekalahan perang juga tanggul penutup Kali Sampean hancur akibat banjir pada Agustus 1945.

"Bendung awal-awal dibangun Hindia Belanda. Jadi Sampean Baru ini ada bendung lamanya di sebelah hulu bendungan. Bendungan Hindia Belanda, tahun 1930," jelas Wahyu.

Kemudian sejak 1970 hingga 1984 dilakukan 8 kali realisasi pembangunan. Dan diresmikan di tahun 1985 dan beroperasi hingga saat ini.

Wahyu tak bisa menjelaskan kapan pertama kali tradisi asatan dilakukan. Dia hanya menerangkan asatan dilakukan setiap tahun sejak lama.

Asatan sendiri berasal dari bahasa Madura yang berarti surut.

Seperti Reza pelajar SMP asal Kecamatan Wonosari. Dia berangkat sendiri berkendara sepeda pancal dengan membawa jaring jam 06.00 WIB dari rumahnya. Jarak Wonosari-Tapen sekitar 5,1 KM.

"Sendiri, mumpung liburan," katanya.

Reza mengaku tak banyak dapat ikan karena kalah cepat dengan warga lain. Reza hanya mendapatkan seplastik udang sungai.

"Cuma dapat udang ini," katanya.

Ziker, warga Kecamatan Prajekan, justru enggan menuju Bendungan Sampean Baru. Dia menangkap ikan mabuk di aliran sungai Sampean Baru di dekat Kantor Kecamatan Prajekan.

"Aku di Prajekan, nunggu disini. Di Samba rame. Sepanjang sungai sampai Perbatasan Situbondo itu full," jelasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....