Cabai Puyang Gumukmas Jember Tembus Pasar Dunia
- 04 Jun 2025 10:02 WIB
- Jember
KBRN, Jember: Masyarakat Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, mulai mengembangkan tanaman herbal cabai puyang atau cabai jawa sebagai alternatif pertanian yang menjanjikan.
Selain dikenal sebagai tanaman rempah tradisional, cabai puyang juga memiliki berbagai khasiat obat. Bahkan juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku kosmetik.
Salah satu petani lokal, Yanuar Ari Candra, mulai membudidayakan tanaman ini sejak akhir 2024. Ia menyebutkan bahwa cabai puyang tergolong mudah dirawat dan tidak membutuhkan banyak biaya.
“Saya mulai tanam lanjar pada November 2024, lalu dilanjutkan penanaman bibit pada Desember. Jadi sekarang usianya sekitar enam bulanan,” ujarnya kepada RRI, Rabu (4/6/2025).
Keputusannya menanam cabai puyang didasari oleh potensi pasar yang menjanjikan serta kemudahan perawatan. Harga jual cabai puyang kering saat ini berkisar Rp105.000 per kilogram.
Keterangan dari para pengepul, komoditas ini telah menembus pasar ekspor ke 38 negara seperti India dan Turki, serta negara yang dikenal memiliki ketertarikan besar terhadap rempah-rempah.
“Kenapa tertarik, karena melihat ada lahan kosong, perawatannya mudah dan harga pasarnya juga lumayan. Tergantung pasar, naik turunnya harga,” kata dia.
Yanuar berharap pemerintah dapat ikut serta mendukung pengembangan pasar dan membantu penyediaan pupuk bagi petani agar hasil budidaya ini semakin maksimal.
Sementara itu, Camat Gumukmas, Nino Eka Putra, menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif warga. Menurutnya, pengembangan cabai puyang merupakan langkah nyata.
Terutama memanfaatkan lahan tidur menjadi sumber penghasilan berbasis potensi lokal. Komoditas ini banyak ditemukan di 5 desa, yaitu Karangrejo, Bagorejo, Tembokrejo, Purwoasri, dan Menampu.
“Umumnya ditanam di pekarangan rumah warga. Tanaman ini mulai masuk Gumukmas sekitar akhir 1980-an dan awal 1990-an,” jelas Nino.
Awalnya dikenal sebagai tanaman obat keluarga (TOGA), cabai puyang kini berkembang menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi, terutama setelah dikeringkan dan dijual sebagai bahan baku jamu.
Khasiatnya yang diyakini mampu menghangatkan tubuh, menjadikannya populer dalam pengobatan tradisional. Nino mengakui, pemberdayaan petani cabai puyang di wilayahnya belum optimal.
Untuk itu, pihaknya tengah merancang pembentukan komunitas petani cabai puyang, agar ke depannya para petani bisa saling bersinergi dan mendapat pendampingan dari penyuluh pertanian.
“Harapannya, jika pengelolaan ini dilakukan secara kolektif dan profesional, nilai jual cabai puyang meningkat dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan keluarga di Gumukmas,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....