Warga Binaan Lapas Banyuwangi Selesai Menulis Al-Qur’an Raksasa

  • 06 Mar 2026 20:29 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Tiga warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banyuwangi berhasil menyelesaikan penulisan Al-Qur’an raksasa berukuran 1 meter. Karya tersebut kini digunakan sebagai sarana tadarus bersama selama bulan suci Ramadhan di dalam lapas.

Al-Qur’an raksasa tersebut merupakan hasil program pembinaan kepribadian berbasis pondok pesantren yang dijalankan di Lapas Banyuwangi, khususnya pada bidang seni kaligrafi. Menariknya, ketiga warga binaan yang menulis Al-Qur’an tersebut awalnya tidak memiliki dasar ilmu kaligrafi maupun pengalaman menulis Al-Qur’an.

Kemampuan tersebut mereka peroleh melalui bimbingan intensif dari pengrajin kaligrafi profesional yang bekerja sama dengan pihak lapas. Program ini menjadi bagian dari upaya pembinaan agar warga binaan memiliki keterampilan sekaligus pendalaman spiritual.

Kepala Lapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa mengatakan, proses penulisan Al-Qur’an raksasa tersebut memakan waktu sekitar 10 bulan. Penulisan dimulai sejak Ramadhan tahun lalu hingga akhirnya rampung dengan penuh ketelitian.

“Al-Qur’an ini adalah bukti keberhasilan pembinaan berbasis pondok pesantren kami. Meskipun para penulisnya berangkat dari nol tanpa keahlian kaligrafi, berkat ketekunan dan bimbingan pengrajin yang kami hadirkan, mereka mampu melahirkan mahakarya ini,” ujar Wayan, Jum'at 6 Maret 2026.

Ia menambahkan, sebelum digunakan secara resmi, naskah Al-Qur’an tersebut telah melalui proses tashih atau pemeriksaan mendalam oleh Pondok Pesantren Nur Cahaya Tarbiyatul Qur'an. Proses tersebut dilakukan untuk memastikan setiap huruf dan harakat ditulis dengan benar.

“Kami memastikan setiap huruf dan harakatnya benar. Setelah melalui proses tashih dan pemeriksaan ulang, dilakukan pembetulan pada bagian tertentu hingga akhirnya dijilid kembali untuk memastikan kualitas fisik dan kerapian,” ucap Wayan.

Salah satu penulis Al-Qur’an tersebut, Moch Chanafi, mengaku bangga dapat menyelesaikan karya tersebut. Baginya, proses penulisan selama 10 bulan menjadi pengalaman spiritual yang sangat berharga.

“Saya sangat bangga bisa menyelesaikan Al-Qur’an raksasa ini, apalagi saya memulainya dari tidak bisa sama sekali. Selama menulis, saya belajar banyak hal untuk bekal kembali ke masyarakat nanti,” tutur Chanafi.

Kini Al-Qur’an raksasa tersebut menjadi bagian dari kegiatan keagamaan warga binaan di Lapas Banyuwangi. Selain menjadi sarana tadarus selama Ramadhan, karya tersebut juga diharapkan dapat memotivasi warga binaan lain untuk terus berkarya dan memperbaiki diri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....