Diskusi Puasa Dalam Tinjauan Materialisme Religio-Historis
- 30 Mar 2025 18:58 WIB
- Jember
KBRN, Jember : Dewan Pengurus Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPK GMNI) Fakultas Hukum Universitas Jember (FH UNEJ) mengadakan diskusi bertema Puasa dalam Tinjauan Materialisme Religio-Historis : Tafsir atas Pemikiran Ali Syariati, bertempat di Komisariat Hukum. Diskusi ini merupakan bagian dari kegiatan mingguan yang kali ini membahas puasa dengan analisis yang lebih luas, tidak hanya dari sudut pandang spiritual, tetapi juga sosial.
Dalam forum ini, dibahas bahwa puasa bukan hanya ritual dalam agama Islam, tetapi juga terdapat dalam tradisi Hindu, Buddha, dan Kristen. Selain itu puasa juga merupakan ritual purba yang berfungsi untuk mengatur keterbatasan sumber daya alam, khususnya pangan. Dengan menahan hawa nafsu, puasa dapat menjadi alat untuk mengatur praktik ekonomi, termasuk produksi, distribusi, dan konsumsi. Dalam konteks ini, puasa diartikan sebagai respons terhadap keterbatasan sumber daya, bukan sekadar hubungan spiritual antara manusia dan Tuhan.
Ketua DPK GMNI FH UNEJ, Syahrin Shafa kepada RRI menerangkan,"Peserta mendiskusikan bahwa selama ini ceramah di masjid sering kali tidak membawa dampak sosial yang signifikan. Banyak ajaran yang hanya membahas teks hadis tanpa mengaitkan dengan isu sosial yang lebih luas, seperti kemiskinan dan ketidakadilan. Oleh karena itu, ada harapan agar bulan puasa ini menjadi waktu untuk mendorong perubahan struktur sosial dan kesetaraan", ungkapnya, 27/3/2025.
Lebih lanjut, diskusi mengungkapkan bahwa ajaran Nabi Muhammad tidak hanya berfokus pada praktik ibadah fisik, tetapi juga mengajak umat untuk saling membantu dan merubah struktur sosial. Para nabi, sebagai wakil Allah, memberikan pemahaman bahwa Islam seharusnya berfungsi sebagai alat untuk membebaskan kelompok-kelompok yang tertindas.
Dalam diskusi ini dibahas salah satu tokoh revolusi Iran, Ali Syariati. Seusai diskusi, harapannya dapat menggeser pemaknaan berislam yang sangat individual ke ruang yang sosial. Alasannya, karena semestinya Islam menjadi pemantik kesadaran kritis dan semangat solidaritas sesama manusia.
Diskusi ini ditutup dengan komitmen untuk terus memperjuangkan pemahaman Islam yang lebih egaliter dan responsif terhadap tantangan sosial saat ini. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan kesadaran kolektif tentang pentingnya puasa sebagai praktik yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga sosial dan ekologis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....