Maleman Dan Rantang, Tradisi Yang Hampir Menghilang

  • 29 Mar 2025 06:55 WIB
  •  Jember

KBRN, Jember : Maleman, adalah sebuah tradisi selamatan di tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Selamatan ini pada umumnya dilaksanakan dengan saling memberi makanan berupa nasi, lauk pauk, kue atau buah, untuk tetangga sekitar rumah, dan sanak saudara. Tetangga atau sanak saudara yang menerima makanan ini menjadi dimudahkan, artinya tidak perlu memasak lauk untuk berbuka puasa. Sebagai gantinya, mereka memberi sangu (bahasa Jawa, artinya uang saku) kepada anak-anak yang menghantarkan makanan tersebut. Sebuah tradisi yang sudah semakin ditinggalkan. Kalaupun ada, hanya dilakukan oleh sekelompok masyarakat di pinggiran. Tempat hantaran makanan yang digunakan dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Dulu memakai rantang susun.

Dra Suci Arnani, M.Pd. , Wakil Ketua II Dewan Pengurus Komite Seni Budaya Nusantara Wilayah Jawa Timur, kepada RRI menjelaskan, "Dahulu, wadah makanan hantaran adalah rantang susun. Memang sih, dibutuhkan tambahan waktu para ibu untuk mengeluarkan dan memasukkan piring tempat nasi dan rangkaiannya, namun pemakaian wadah rantang jauh lebih estetik dan ramah lingkungan, daripada wadah kotak berbahan kardus yang sekarang umum digunakan." ungkapnya, (27/3/2025).

Rantang telah populer di Indonesia sejak tahun 1950an. Rantang memiliki nama unik di berbagai negara. Thailand menyebutnya Pin To, Khmer menyebut Chan Srak, China Hokkien menyebut Uann tsan, Arab menyebut Safartas. Namun sayang, pemakaian wadah rantang saat ini semakin memudar. Adakah yang masih menggunakan wadah rantang sebagai hantaran?

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....