Negara dengan Durasi Puasa Terlama di Dunia

  • 13 Mar 2025 19:35 WIB
  •  Jember

KBRN, Jember : Puasa Ramadan merupakan ibadah yang dijalankan umat Muslim di seluruh dunia. Namun, durasi puasa di setiap negara berbeda-beda tergantung pada letak geografisnya. Beberapa negara mengalami puasa dengan durasi yang jauh lebih lama dibandingkan lainnya. Tahun ini, beberapa wilayah di belahan bumi utara mencatatkan waktu puasa terlama, mencapai lebih dari 20 jam dalam sehari.

Negara dengan Durasi Puasa Terlama

Negara-negara di wilayah utara seperti Islandia, Norwegia, Finlandia, dan Swedia mengalami durasi puasa yang paling panjang. Di kota-kota seperti Tromsø (Norwegia) dan Reykjavik (Islandia), umat Muslim harus berpuasa selama sekitar 20-22 jam karena waktu siang yang lebih panjang selama musim semi dan musim panas.

Fenomena ini terjadi karena kemiringan sumbu bumi terhadap matahari, yang menyebabkan variasi panjang siang dan malam di berbagai belahan bumi. Menurut penelitian dalam jurnal Nature Climate Change (Seidel et al., 2019), wilayah kutub mengalami perubahan durasi siang dan malam yang ekstrem, terutama di sekitar ekuinoks dan solstis.

Di wilayah dengan kondisi ekstrem seperti ini, umat Muslim sering mengikuti fatwa yang memperbolehkan mereka berpuasa berdasarkan waktu dari Makkah atau negara terdekat dengan durasi puasa yang lebih wajar. Studi dari Journal of Islamic Studies (Ahmed, 2020) juga menjelaskan bahwa Majelis Ulama di beberapa negara memberikan panduan agar puasa tetap bisa dijalankan dengan lebih seimbang berdasarkan metode yang sesuai dengan syariat Islam.

Negara dengan Durasi Puasa Tersingkat

Sebaliknya, di belahan bumi selatan, seperti di Argentina, Chile, dan Selandia Baru, waktu puasa jauh lebih pendek. Beberapa wilayah hanya berpuasa sekitar 11-12 jam karena matahari terbit lebih lambat dan terbenam lebih cepat dibandingkan negara-negara di utara.

Menurut penelitian dalam jurnal Geophysical Research Letters (Huang et al., 2018), durasi siang hari di belahan bumi selatan cenderung lebih singkat pada bulan-bulan tertentu, terutama saat musim gugur dan musim dingin. Hal ini membuat umat Muslim di wilayah tersebut menjalani puasa dengan waktu yang relatif lebih pendek dibandingkan mereka yang berada di utara.

Tantangan dan Penyesuaian

Umat Muslim yang berpuasa di negara-negara dengan durasi ekstrem sering menghadapi tantangan besar, terutama dalam menjaga stamina dan kesehatan. Sebuah studi dari International Journal of Environmental Research and Public Health (Al-Domi et al., 2021) mengungkapkan bahwa puasa dalam durasi panjang dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan metabolisme, dan penurunan energi jika tidak diimbangi dengan pola makan yang tepat saat sahur dan berbuka.

Oleh karena itu, beberapa komunitas Muslim mengikuti pedoman yang telah diberikan oleh ulama untuk menyesuaikan waktu puasa agar tetap dalam batas yang wajar. Panduan ini merujuk pada beberapa fatwa dari Dewan Fiqih Islam Internasional yang menyarankan penggunaan waktu Makkah atau kota terdekat dengan durasi puasa yang moderat.

Meski demikian, semangat menjalankan ibadah Ramadan tetap tinggi di seluruh dunia, baik di negara dengan durasi puasa terlama maupun tersingkat. Ramadan menjadi momentum bagi umat Muslim untuk meningkatkan ibadah, ketahanan, dan kebersamaan, terlepas dari tantangan yang dihadapi.

Durasi puasa di berbagai negara sangat bervariasi, dari 11 jam di belahan bumi selatan hingga lebih dari 20 jam di negara-negara utara. Studi ilmiah menunjukkan bahwa perbedaan ini dipengaruhi oleh kemiringan sumbu bumi, pola perubahan siang-malam, serta faktor kesehatan yang dapat berdampak pada metabolisme tubuh. Adaptasi dan fatwa dari ulama membantu umat Muslim di wilayah ekstrem untuk menjalankan ibadah puasa dengan lebih baik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....