Sebanyak 400 Pesepeda dari Lima Negara Tantang Rute Gravel Glenmore
- 05 Okt 2026 07:20 WIB
- Jember
RRI.CO.ID Banyuwangi – Sebanyak 400 pesepeda dari lima negara menjajal rute gravel dalam ajang Nggravel Glenmore Banyuwangi, Minggu, 4 Oktober 2026. Peserta berasal dari Australia, Belanda, Singapura, Swiss, dan Indonesia, dengan latar belakang mulai dari pesepeda muda hingga senior, atlet profesional, hingga peserta yang baru pertama mengikuti balap gravel.
Nggravel Glenmore menjadi event yang pertama kali digelar Mainsepeda berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Ajang tersebut menyediakan tiga kategori, yakni kompetitif gravel 100 kilometer (km), kompetitif MTB 100 km, serta 80 km non-race dengan garis start dan finis di Industri Gula Glenmore (IGG).
Karakter lintasan menjadi salah satu tantangan utama yang harus dihadapi peserta. Sekitar 90 persen rute berupa jalur gravel dengan permukaan tanah, kerikil, dan bebatuan kecil, sementara sebagian lainnya berupa jalan aspal dan single track.
Rute tersebut tidak didominasi tanjakan panjang, tetapi memiliki kontur yang terus menanjak secara bertahap serta sejumlah bagian dengan sharp hill atau tanjakan curam dalam jarak pendek. Karakter tersebut membuat Nggravel Glenmore disebut memiliki kemiripan dengan Unbound Gravel, ajang balap gravel yang digelar di Kansas, Amerika Serikat.
Veri, peserta kategori Gravel 100 KM asal Kediri, menilai karakter lintasan Glenmore memiliki kemiripan dengan ajang gravel di Amerika Serikat tersebut. Menurutnya, kondisi jalur menjadi salah satu hal yang membuat perlombaan terasa menantang.
“Benar-benar mirip Unbound di Amerika,” kata Veri, Minggu, 4 Oktober 2026.
Peserta asal Australia, Stephen Lane, mengaku sudah beberapa kali mengikuti event sepeda di Banyuwangi. Namun, Nggravel Glenmore menjadi pengalaman pertamanya mengikuti balapan gravel di Indonesia.
“Secara umum, saya di sini untuk menikmati pengalaman dan bersenang-senang,” ujar Lane.
Sementara itu, Tika, peserta asal Yogyakarta, mengaku tertarik menjajal trek Glenmore meski baru pertama kali mengikuti rute gravel. Ia juga membawa pengalaman dari sejumlah kejuaraan balap sepeda di daerah lain sebagai bekal mengikuti ajang tersebut.
“Niat saya ikut tidak hanya menyelesaikan perlombaan, namun juga berolahraga sambil berwisata. Karena di Banyuwangi sudah tidak diragukan lagi, pemandangannya itu selalu spektakuler,” ucap Tika.
Founder Mainsepeda, Azrul Ananda, mengatakan variasi permukaan menjadi karakter utama lintasan Nggravel Glenmore. Sekitar empat kilometer pertama masih berupa jalan aspal sebelum peserta memasuki jalur gravel dengan berbagai kondisi permukaan.
“Ada bagian bisa dengan mudah melaju di atas 40 km/jam. Ada yang rock garden menggetarkan badan. Ada pula bagian-bagian berpasir yang menantang konsentrasi,” kata Azrul.
Menurut Azrul, variasi tersebut membuat lintasan dapat memberikan tantangan berbeda bagi peserta dengan kemampuan dan pengalaman yang beragam. Ia menilai karakter rute tersebut sekaligus melengkapi pilihan event sepeda yang selama ini digelar di Banyuwangi.
Banyuwangi sebelumnya telah memiliki sejumlah agenda olahraga sepeda, seperti Tour de Banyuwangi Ijen, Ijen KOM, BIG Downhill, dan BMX Supercross. Kehadiran Nggravel Glenmore menambah pilihan kompetisi sekaligus pengalaman bersepeda dengan karakter lintasan berbeda.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan Glenmore memiliki potensi wisata alam yang dapat mendukung penyelenggaraan kegiatan olahraga. Kawasan tersebut berada di lereng Gunung Raung dan memiliki sejumlah komoditas unggulan, seperti kakao, tebu, karet, dan kopi.
“Kehadiran event Nggravel Glenmore ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan pariwisata sekaligus produk unggulan Banyuwangi,” kata Ipuk.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....