Orado Kian Populer, Turnamen Banyuwangi Diserbu 42 Tim

  • 29 Agt 2026 14:29 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID Banyuwangi – Cabang olahraga Orado semakin diminati di Banyuwangi. Turnamen yang digelar di Hotel Aston pada Sabtu, 29 Agustus 2026, diserbu 42 tim pendaftar, meski panitia akhirnya membatasi peserta menjadi 32 tim sesuai format kompetisi.

Ketua Pengcab Orado Banyuwangi Dede Abdul Ghany mengatakan tingginya jumlah pendaftar menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap Orado terus berkembang. Menurutnya, pembatasan peserta dilakukan agar pertandingan tetap berjalan sesuai bagan dan regulasi yang ditetapkan.

“Turnamen ini kami batasi hanya 32 tim dari hampir 12 klub. Pendaftarnya hampir 42 tim, tetapi kami memang ada aturan bagan yang harus diakomodasi supaya pertandingan berjalan dengan baik,” ujar Dede, Sabtu 29 Agustus 2026.

Orado merupakan transformasi dari permainan domino yang selama ini dikenal masyarakat sebagai gaple. Berbeda dengan permainan rekreasi, Orado kini dikembangkan sebagai cabang olahraga prestasi profesional di bawah naungan PB Orado yang dideklarasikan pada Januari 2026.

Orado kemudian resmi menjadi bagian dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat pada Mei 2026. Di tingkat provinsi dan kabupaten, cabang olahraga tersebut mulai diresmikan sebagai bagian dari KONI pada awal Agustus 2026.

Menurut Dede, perkembangan Orado di Banyuwangi diharapkan dapat menjadi wadah bagi pemain dari tingkat desa maupun komunitas untuk mengembangkan kemampuan dalam kompetisi yang lebih terarah. Permainan yang sebelumnya dilakukan sebagai hiburan masyarakat kini diarahkan menjadi olahraga dengan standar pertandingan dan pembinaan yang lebih profesional.

Selain menjadi ajang kompetisi, turnamen tersebut juga digelar dalam rangka memperingati HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Dede menilai kegiatan olahraga seperti ini dapat menjadi ruang interaksi masyarakat sekaligus memberikan dampak ekonomi melalui penyelenggaraan kegiatan di daerah.

“Bidang olahraga ini bisa membangkitkan serta menggerakkan ekonomi di daerah,” kata Dede.

Salah satu peserta, Hujaini, merasakan perbedaan atmosfer antara permainan Orado dalam turnamen dengan permainan domino yang biasa dilakukan di tingkat kampung. Menurutnya, format kompetisi membuat peserta lebih fokus karena setiap pertandingan menentukan peluang untuk melaju ke babak berikutnya.

“Suasana berkompetisi jadi terasa,” ujar Hujaini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....