Vito, Dari Desa Wuluhan ke Kampus Unmuh Jember

  • 06 Jan 2026 22:49 WIB
  •  Jember

KBRN, Jember: Di sebuah desa di Kecamatan Wuluhan, Jember, suara bola yang ditendang di depan rumah menjadi awal dari mimpi besar seorang anak laki-laki bernama Muhammad Vito Maulana. Tak ada lapangan megah, tak pula sepatu mahal. Namun dari ruang sederhana itulah, Vito menanamkan satu tekad: menjadi pesepak bola yang berprestasi.

Kini, Vito tercatat sebagai mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember. Perjalanannya menuju bangku kuliah tidak lepas dari kisah panjang tentang kerja keras, disiplin, dan keberanian bermimpi di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.

Vito tumbuh dalam keluarga sederhana. Kondisi ekonomi yang pas-pasan justru menempa mentalnya sejak dini.

" Saya belajar bahwa mimpi tidak selalu lahir dari kemewahan, melainkan dari kegigihan. Dukungan terbesar datang dari orang tuanya, terutama sang ayah yang pernah menekuni dunia sepak bola. Dari ayahnya, Vito belajar arti disiplin, konsistensi, dan kecintaan pada olahraga" ujar Vito Selasa (6/1/2025).

Ketertarikan Vito pada sepak bola mulai tumbuh serius saat usianya menginjak 12 tahun. Ia kemudian bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) PBJ Desa Karang Duren. Meski berbasis di desa, kualitas latihan yang ia terima tak kalah dengan klub-klub di perkotaan. Setiap sesi latihan dijalani dengan penuh kesungguhan, meski harus berbagi waktu dengan sekolah dan membantu keluarga.

Kerja keras itu berbuah manis pada tahun 2022. Bersama timnya, Vito berhasil menjuarai Turnamen Soeratin KU-17 di Bali. Prestasi tersebut menjadi titik balik yang menegaskan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bersaing di level nasional.

Memasuki fase baru sebagai mahasiswa Unmuh Jember, Vito kembali menguji mental dan kemampuannya di ajang Liga 4 bersama Academy Blayu FC. Tergabung di grup yang dihuni tim-tim kuat, perjalanan Blayu FC tidak berjalan mudah.

Laga pertama menghadapkan Blayu FC dengan tim unggulan Triple’s Kediri. Pertandingan berlangsung ketat hingga menit-menit akhir. Sayangnya, kartu merah yang diterima salah satu pemain Blayu FC di penghujung laga dimanfaatkan lawan untuk mencetak gol pada menit ke-86. Skor 1–0 menjadi hasil pahit yang harus diterima.

Namun Blayu FC bangkit pada pertandingan kedua melawan tim asal Mojokerto yang diperkuat pemain berpengalaman di Liga 3. Meski berada di bawah tekanan, Blayu FC tampil disiplin dan sabar. Kerja keras itu terbayar pada menit ke-89 saat striker Blayu FC memanfaatkan kesalahan bek lawan dan mencetak gol kemenangan. Tiga poin krusial pun diraih.

Harapan untuk melaju lebih jauh pupus pada laga terakhir melawan tuan rumah Persema Malang. Pertandingan berjalan alot hingga pelanggaran di kotak penalti pada menit ke-65 membuat Persema unggul lewat titik putih. Skor 1–0 bertahan hingga peluit akhir, sekaligus memastikan Blayu FC harus tersingkir di fase grup.

Meski langkahnya terhenti, Vito tidak memandang kegagalan sebagai akhir. Baginya, setiap pertandingan adalah pelajaran, setiap kekalahan adalah proses pendewasaan. Ia sadar, perjalanan menjadi atlet profesional dan mahasiswa berprestasi masih panjang dan penuh tantangan.

Kisah Muhammad Vito Maulana menjadi cermin bahwa mimpi dapat tumbuh dari mana saja. Dengan disiplin, kerja keras, dan dukungan keluarga, prestasi di bidang olahraga dapat berjalan seiring dengan dunia akademik. Semangat juang Vito sejalan dengan nilai-nilai yang dijunjung Universitas Muhammadiyah Jember membentuk generasi tangguh, berkarakter, dan berdaya saing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....