Mahasiswi UNEJ Taklukan Cedera demi Raih Medali Perunggu

  • 10 Sep 2025 22:54 WIB
  •  Jember

KBRN,Jember: Dua minggu sebelum Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII 2025 digelar, Adenia Nafisa Falahi Basuki mengalami kecelakaan kecil yang membuat kakinya cedera. Namun, mahasiswi program studi D3 Perpajakan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (UNEJ) itu menolak menyerah.

Dengan tekad bulat, ia tetap melanjutkan persiapan dan berangkat ke Nusa Tenggara Barat untuk bertanding. Hasilnya, Sebuah medali perunggu yang kini menggantung manis di lehernya.

“Momen paling menegangkan yaitu di saat saya berusaha bertahan dalam pertandingan dengan keadaan kaki saya yang cedera pasca kecelakaan dua minggu sebelum perlombaan,” ungkapnya.

Adenia bertanding di cabang Lomba Kebugaran Jantung Perorangan Wanita Usia Maksimal 49 Tahun, sebuah ajang yang menguji ketahanan fisik dan kesehatan kardiovaskular. Lomba ini bukan soal siapa paling cepat berlari, melainkan soal konsistensi, ritme pernapasan, dan kekuatan jantung menghadapi tantangan. Sistemnya mirip beep test, di mana tempo semakin cepat seiring bertambahnya level.

"Jenis perlombaannya sendiri dinilai dari seberapa bugar badan kita dan mengolah ketahanan jantung. Sistemnya semacam beep test, di mana setiap tingkatan akan semakin cepat juga waktunya,” jelas Adenia.

Di bawah bimbingan Lembaga Seni Pernafasan Satria Nusantara (LSPSN), Adenia berlatih rutin mengolah napas, gerak, dan konsentrasi.

“Latihan pernapasan yang pelan, dalam, dan teratur membuat saya lebih tenang, sekaligus melatih daya tahan tubuh,” ujarnya.

Kesibukan kuliah ternyata tak menjadi penghalang. Jadwal latihan yang jatuh di akhir pekan membuat Adenia tetap bisa mengikuti perkuliahan dengan baik. Ia percaya, prestasi non-akademik justru menjadi pelengkap penting bagi pengembangan diri.

Di babak final FORNAS VIII 2025, Adenia harus mengakui keunggulan dua atlet tuan rumah dari NTB yang meraih posisi pertama dan kedua. Namun, keberhasilannya menyabet medali perunggu tetap menjadi kebanggaan, baik bagi dirinya maupun UNEJ.

“Persaingan sebenarnya tidak terlalu ketat, tapi penilaiannya cukup rumit. Bahkan peserta yang gugur di sesi awal belum tentu kalah, karena ada penyesuaian usia dan ketentuan lain yang ikut dihitung,” jelasnya.

Pencapaian Adenia menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik dan tekanan mental bukan alasan untuk menyerah. Kisahnya menginspirasi mahasiswa lain untuk menjaga kebugaran dan berani mengejar mimpi di luar ruang kelas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....